Ramadhan


Doa rasulullah kepada keponakannya Ibnu Abbas :
اللهم فقهه فى الدين و علمه التاءويل
Ya Allah, fahamkanlah ia (ibnu abbas) dalam semua permasalahan agama, dan berikanlah ia ilmu untk bisa menta’wilkan (tafsirkan al qur’an)

Ketika berdoa bisa menggunakan isim domir nahnu ma’al ghoir :

اللهم فقهنا فى الدين وعلمنا التاءويل
Allahumma faqqihna fiddin wa ‘allimnat ta’wil

Ya Allah, fahamkanlah kami dalam semua permasalahan agama, dan berikanlah kami ilmu bisa menta’wilkan (menafsirkan al qur’an)⁠⁠⁠⁠

Ayo siap2 meraih malam penetapan Allah, malam penuh berkah, diawali dari maghrib sampai subuh, detik demi detik sama waktunya semua diberkahi Allah,
Carilah maka akan dapat lailatul qadar
Ayo :
– i’tikaf
– baca al-qur’an
– ngaji tentang kajian islam
– banyakin doa
Allahumma innaka afuwwun kariim tuhibbul afwa fa’fu ‘anni
اللهم انك عفو كريم تحب العفو فاعف عني
Allahumma inna nas-aluka ridhoka wal jannah wa na’udzubika min sakhotika wan naar
اللهم انا نسالك رضاك والجنة ونعوذ بك من سخطك و النار

Plan(review) Vs. Actual Plan


Dalam analisis akuntansi dan keuangan, perbedaan antara rencana dan aktual disebut varians.
varian dapat memiliki nilai positif (baik) atau negatif (buruk).

Positif Varian

  • Jika selisihnya sebagai angka positif.
  • Jika Anda menjual lebih dari yang direncanakan, itu positif. Jika keuntungan lebih tinggi dari yang direncanakan, itu positif juga. Jadi untuk penjualan dan keuntungan, varians adalah hasil aktual dikurangi nilai yang direncanakan.
  • Untuk biaya dan pengeluaran, pengeluaran yang kurang dari yang direncanakan positif, jadi varians positif berarti jumlah sebenarnya kurang dari jumlah yang direncanakan. Untuk menghitungnya, kurangi biaya yang direncanakan dengan hasil aktual dari biaya

Negatif Varian

  • Jika selisihnya sebagai angka negatif.
  • Bila penjualan atau keuntungan kurang dari yang direncanakan, itu negatif. Anda menghitung varians pada penjualan dan keuntungan dengan mengurangi hasil aktual dengan nilai rencana.
  • Bila biaya atau pengeluaran lebih dari yang direncanakan, itu juga negatif. Sekali lagi, Anda mengurangi nilai yang direncanakan dengan hasil aktual  .

Contoh sales varian

sales-variance-analysis

contoh expenses varian

expense-variance-analysis.jpg

Analyzing the Marketing Expense Case

Continue reading

Blended Learning


Blended Learning, bisa juga disebut dengan Hybrid Learning, sesuai dengan namanya merupakan suatu metode pembelajaran yang mengkombinasikan metode pembelajaran tatap muka dengan online learning.

Metode pembelajaran bisa berupa tatap muka sehari – hari, kemudian ada beberapa komponen pembelajaran e – learning yang disisipkan, maupun sebaliknya, kebanyakan pembelajaran e- learning, lalu disisipkan metode tatap muka untuk review atau untuk ujian.

Ada yang perlu diperhatikan oleh peserta saat hendak mengikuti metode pembelajaran ini adalah komitmen waktu untuk mempelajari suatu topik, kemampuan untuk beradaptasi dengan metode pembelajaran yang berbeda dari biasanya,

Metode pembelajaran ini bisa jadi menjadi suatu solusi yang baik untuk memenuhi kebutuhan market, dimana metode pembelajaran tatap muka dirasa sulit karena adanya kendala waktu maupun tempat, adanya pengurangan biaya operasional, peserta dapat menentukan sendiri kecepatan mereka dalam belajar, tidak terikat waktu namun tetap harus memiliki komitmen.

Mari kita lihat dari sisi peserta
Kelebihan untuk “saya sebagai peserta”:

  • Belajar kapan pun saya mau
  • Belajar dengan kecepatan yang saya inginkan
  • Mendapatkan pengalaman belajar dengan metode berbeda
  • Ada waktu untuk memperdalam suatu topik, sebelum membahas dengan trainer

Kekurangannya:

  • Harus memiliki komitmen waktu, karena saat tidak face-to-face tidak ada waktu tersendiri untuk belajar

Kesimpulannya, bisa kita katakan bahwa blended learning memberikan peserta suatu kesempatan untuk mempelajari/mengembangkan suatu keahlian berdasarkan self motivation, manajemen waktu dan konsentrasi (kemampuan untuk tetap fokus)

Sekarang kita lihat dari sisi pemberi training, sisi pemberi training disini dalam hal ini bisa jadi adalah lembaga yang menyediakan training, maupun perusahaan yang men-support blended learning

Kelebihan untuk “saya sebagai penyedia training”:

  • Beban biaya operasional training berkurang, begitu juga dengan biaya instruktur yang harus dibayarkan
  • Untuk perusahaan, karyawannya masih tetap ada di kantor bekerja sekaligus mempelajari suatu keahlian/topik
  • Konten training bisa diadaptasikan sesuai kebutuhan bisnis

Kekurangannya:

  • Saya harus mencari orang yang tepat untuk mendeliver materi agar tujuan dari pembelajaran benar – benar tersampaikan
  • Peserta tetap membutuhkan face-to-face untuk melengkapi pembelajaran
  • Training harus lebih serius, tidak sekedar main – main

Profesor McGinnis (2005) dalam artikelnya yang berjudul ‘Building A Successful Blended Learning Strategy’, menyarankan 6 hal yang perlu diperhatikan manakala orang menyelenggarakan blended learning.

Ke-enam hal tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Penyampaian bahan ajar dan penyampaian pesan-pesan yang lain (seperti pengumuman yang berkaitan dengan kebijakan atau peraturan) secara konsisten.
  2. Penyelenggaraan pembelajaran melalui blended learning harus dilaksanakan secara serius karena hal ini akan mendorong siswa cepat menyesuaikan diri dengan sistim pendidikan jarak jauh. Konsekuensinya, siswa lebih cepat mandiri.
  3. Bahan ajar yang diberikan harus selalu mengalami perbaikan (updated), baik dari segi formatnya maupun ketersediaan bahan ajar yang memenuhi kaidah ‘bahan ajar mandiri’ (self-learning materials) seperti yang lazim digunakan pada pendidikan jarak jauh.
  4. Alokasi waktu bisa dimulai dengan formula awal 75:25 dalam artian bahwa 75% waktu digunakan untuk pembelajaran online dan 25% waktu digunakan untuk pembelajaran secara tatap muka (tutorial). Karena alokasi waktu ini belum ada yang baku, maka penyelenggara pendidikan bisa membuat ‘uji coba’ sendiri, sehingga diperoleh alokasi waktu yang ideal.
  5. Alokasi waktu tutorial sebesar 25% untuk tutorial, dapat digunakan khusus bagi mereka yang tertinggal, namun bila tidak memungkinkan (misalnya sebagian besar siswa menghendaki pembelajaran tatap muka), maka waktu yang tersedia sebesar 25% tersebut bisa dipakai untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan siswa dalam memahami isi bahan ajar. Jadi semacam penyelenggaraan ‘remedial class’.
  6. Dalam blended learning diperlukan kepemimpinan yang mempunyai waktu dan perhatian untuk terus berupaya bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran.

 

Selanjutnya secara lebih spesifik Profesor Steve Slemer (2005) dan Soekartawi (2005b) menyarankan enam tahapan dalam merancang dan menyelenggarakan blended learning agar hasilnya optimal. Ke-enam tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tetapkan macam dan materi bahan ajar, kemudian ubah atau siapkan bahan ajar tersebut menjadi bahan ajar yang memenuhi syarat untuk pendidikan jarak jauh. Karena medium pembelajarannya adalah blended – learning, maka bahan ajar sebaiknya dibedakan atau dirancang untuk tiga macam bahan ajar, yaitu:
    1. Bahan ajar yang dapat dipelajari sendiri oleh siswa,
    2. Bahan ajar yang dapat dipelajari melalui cara berinteraksi melalui cara tatap-muka, dan Bahan ajar yang dapat dipelajari melalui cara berinteraksi melalui cara online/web-based learning.
  2. Tetapkan rancangan dari blended learning yang digunakan. Pada tahap ini diperlukan ahli e-Learning untuk membantu. Intinya adalah bagaimana membuat rancangan pembelajaran yang berisikan komponen pendidikan jarak jauh dan tatap-muka yang baik. Karena itu dalam membuat rancangan pembelajaran ini, perlu diperhatikan hal-hal yang berkaitan antara lain:
    1. Bagaimana bahan ajar tersebut disajikan.
    2.  Bahan ajar mana yang bersifat wajib dipelajari dan mana yang sifatnya anjuran guna memperkaya pengetahuan siswa.
    3. Bagaimana siswa bisa mengakses dua komponen pembelajaran tersebut.
    4. Faktor pendukung apa yang diperlukan. Misalnya software apa yang digunakan, apakah diperlukan kerja kelompok, apakah diperlukan learning resource centers (sumber pembelajaran) di daerah-daerah tertentu.
  3. Tetapkan format dari on-line learning- apakah bahan ajar tersedia dalam format html (sehingga mudah di cut and paste) atau dalam format PDF (tidak bisa di cut and paste). Juga perlu di beritahukan ke siswa dan guru hosting apa yang dipakai, yaitu apakah on-line learning tersebut menggunakan internet link apa ?. apakah Yahoo, Google, MSN atau lainnya.
  4. Lakukan uji terhadap rancangan yang dibuat. Ini maksudnya apakah rancangan pembelajaran tersebut bisa dilaksanakan dengan mudah atau sebaliknya. Cara yang lazim dipakai untuk uji seperti ini adalah melalui cara ‘pilot test’. Dengan cara ini penyelenggara blended learning bisa minta masukan atau saran dari pengguna atau peserta pilot test.
  5. Selenggarakan blended learning dengan baik sambil juga menugaskan instruktur khusus (dosen/guru) yang tugas utamanya melayani pertanyaan siswa, apakah itu bagaimana melakukan pendaftaran sebagai peserta, bagaimana siswa atau instruktur yang lain melakukan akses terhadap bahan ajar, dan lainlain. Instruktur ini juga bisa berfungsi sebagai petugas promosi (public relation) karena yang bertanya mungkin bukan dari kalangan sendiri, tetapi dari pihak lain.
  6. Siapkan kriteria untuk melakukan evaluasi pelaksanaan blended learning. Memang banyak cara bagaimana membuat evaluasi ini, namun Semler (2005) menyarankan sebagai berikut:
    1. Ease to navigate, dalam artian seberapa mudah siswa bisa mengakses semua informasi yang disediakan di paket pembelajaran yang disiapkan di komputer. Kriterianya: makin mudah melakukan akses adalah makin baik.
    2. Content/substance, dalam artian bagaimana kualitas isi instruksional yang dipakai. Misalnya bagaimana petunjuk mempelajari isi bahan ajar, bagaimana bahan ajar itu disiapkan, apakah bahan ajar yang ada sesuai dengan tujuan pembelajaran, dan sebagainya. Kriterianya: makin mendekati isi bahan ajar itu dengan tujuan pembelajaran adalah makin baik.
    3. Layout/format/appearance, dalam artian apakah paket pembelajaran (bahan ajar, petunjuk belajar, atau informasi lainnya) disajikan secara profesional. Kriterianya: makin baik penyajian bahan ajar adalah makin baik.
    4. Interest, dalam artian sampai seberapa besar paket pembelajaran (bahan ajar, petunjuk belajar, atau informasi lainnya) yang disajikan mampu menimbulkan daya tarik siswa untuk belajar. Kriterianya: bila paket pembelajaran yang disajikan mampu menimbulkan siswa untuk terus tertarik belajar adalah makin baik.
    5. Applicability, dalam artian seberapa jauh paket pembelajaran (bahan ajar, petunjuk belajar, atau informasi lainnya) yang disajikan bisa dipraktekkan secara mudah. Kriterianya: makin mudah dipraktekkan adalah makin baik.
    6. Cost-effectiveness/value, dalam artian sampai seberapa murah biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti paket pembelajaran tersebut. Kriterianya: semakin murah semakin baik.

 

 

sumber :

Soekartawi, A. Haryono dan F. Librero, (2002), Greater Learning Opportunities Through Distance Education: Experiences in Indonesia and the Philippines. Southeast Journal of Education

McGinnis, M. (2005). Building A Successful Blended Learning Strategy, (http://www.ltimagazine.com/ltimagazin e/article/articleDetail.jsp?id=167425),

Metode Pembelajaran Berbasis Project


pbjl

Penyusunan laporan dan presentasi/publikasi hasil proyek Hasil proyek dalam bentuk produk, baik itu berupa produk karya tulis, karya seni, atau karya teknologi/prakarya dipresentasikan dan/atau dipublikasikan kepada peserta didik yang lain dan guru atau masyarakat dalam bentuk pameran produk pembelajaran.

  1. Penentuan proyek Pada langkah ini, peserta didik menentukan tema/topik proyek berdasarkan tugas proyek yang diberikan oleh guru. Peserta didik diberi kesempatan untuk memilih/menentukan proyek yang akan dikerjakannya baik secara kelompok ataupun mandiri dengan catatan tidak menyimpang dari tugas yang diberikan guru.
  2. Perancangan langkah-langkah penyelesaian proyek Peserta didik merancang langkah-langkah kegiatan penyelesaian proyek dari awal sampai akhir beserta pengelolaannya. Kegiatan perancangan proyek ini berisi aturan main dalam pelaksanaan tugas proyek, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung tugas proyek, pengintegrasian berbagai kemungkinan penyelesaian tugas proyek, perencanaan sumber/bahan/alat yang dapat mendukung penyelesaian tugas proyek, dan kerja sama antar anggota kelompok.
  3. Penyusunan jadwal pelaksanaan proyek Peserta didik di bawah pendampingan guru melakukan penjadwalan semua kegiatan yang telah dirancangnya. Berapa lama proyek itu harus diselesaikan tahap demi tahap.
  4.  Penyelesaian proyek dengan fasilitasi dan monitoring guru Langkah ini merupakan langkah pengimplementasian rancangan proyek yang telah dibuat. Aktivitas yang dapat dilakukan dalam kegiatan proyek di antaranya adalah dengan
    1. membaca,
    2.  meneliti,
    3. observasi,
    4. interviu,
    5. merekam,
    6. berkarya seni,
    7. mengunjungi objek proyek, atau
    8.  akses internet. Guru bertanggung jawab memonitor aktivitas peserta didik dalam melakukan tugas proyek mulai proses hingga penyelesaian proyek. Pada kegiatan monitoring, guru membuat rubrik yang akan dapat merekam aktivitas peserta didik dalam menyelesaikan tugas proyek.
  5. Penyusunan laporan dan presentasi/publikasi hasil proyek Hasil proyek dalam bentuk produk, baik itu berupa produk karya tulis, karya seni, atau karya teknologi/prakarya dipresentasikan dan/atau dipublikasikan kepada peserta didik yang lain dan guru atau masyarakat dalam bentuk pameran produk pembelajaran.
  6. Evaluasi proses dan hasil proyek Guru dan peserta didik pada akhir proses pembelajaran melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil tugas proyek. Proses refleksi pada tugas proyek dapat dilakukan secara individu maupun kelompok. Pada tahap evaluasi, peserta didik diberi kesempatan mengemukakan pengalamannya selama menyelesaikan tugas proyek yang berkembang dengan diskusi untuk memperbaiki kinerja selama menyelesaikan tugas proyek. Pada tahap ini juga dilakukan umpan balik terhadap proses dan produk yang telah dihasilkan.

Continue reading

Internet marketing 3 (Google Adsense)


Pasang Adsense yuk..

Bagi yang mau coba2 ga ada salahnya untuk memasang Adsense di Blog Anda.Bila Anda mempunyai Blog di Blogger, sebenarnya memang untuk tujuan itulah si Empunya Hosting memberikan ruang hosting cuma-cuma, agar memasang Adsense untuk kepentingan bisnisnya. Khan Blogger sama Google saudara kandung.. he.. he..

Sebenernya apasih Google Adsense?
Google Adsense adalah salah satu Program Pay per Click dari Google, Sebelumnya Google telah membuat Google Adword, artinya bagi para pemilik website yang ingin websitenya nongol di halaman Google pemilik website dapat mewujudkannya dengan melakukan pendaftaran di Google Adword. Adapun metode pembayarannya, biaya advertising tergantung jumlah klik dari iklan yang di pasang oleh Google. Nah karena program ini ada maka terciptalah Google Adsense. Jadi kalo gampangnya si pemilik Website membayar ke Google nah Om Google yang baik hati akan memberikannya ke si pemasang Adsense. Bila kita sering melihat tulisan [ Ads by Google ] nah itulah penampakan asli dari Google Adsense. Ada yang di tempatkan di side bar ada yang di bawah banner kadang-kadang ada yang disembunyiin sehingga mirip sama halaman website.

Bagaimana cara mendaftar Google Adsense?
Anda bisa mendaftar Google Adsense dari tumbnail di side bar website ini. Nah Tips-tips bagi yang baru mau daftar Adsense antara lain

1. Kalau bisa website atau blog yang Anda daftarkan berbahasa Inggris. Saya sempat mendaftar Google Adsense dan karena memakai bahasa Indonesia… Eh ditolak..
Sadis emang.. Trus di coba lagi Alhamdulillah di terima. Kalo belum bisa bahasa Inggris copy paste dulu aja berita yang ada di Yahoo atau artikel-artikel gratis di internet.
2. Tulis data diri Anda dengan sebenar-benarnya dan jangan mempunyai lebih dari satu Account di Google. Sebab jangan sampai Anda di banned oleh Google.

setelah selesai mendaftar tunggulah dengan sabar, Google membutuhkan waktu kira-kira 2 hari untuk memeriksa dan mennerima aplikasi lamaran Anda. Bila diterima selamat. Jika tidak silahkan coba lagi.

Setelah diterima maka Anda dapat menggunakan Program Adsense antara lain Adsense for Content, Adsense for Search, Referrals.

Sekedar info, para pengguna GA kurang menyukai Adsense for Search karena kurang optimal, tapi bila ingin sekedar memasangnya di blog atau website Anda ya ga apa-apa sih.

Nah setelah mendapatkan kode Adsense melalui set up di Google. Pasanglah kode tersebut di template blog atau website Anda. Untuk melakukan ini setidaknya Anda mesti mempelajari kode-kode html terlebih dahulu. Gak sulit kok. Bila Anda pemakai Blogger saya rasa itu bukan hal yang sulit.

Berapa yang bisa Anda peroleh dari Google Adsense

Ini tergantung dari banyaknya jumlah klik yang Anda peroleh, Ada yang masih kecil ada juga yang sudah besar. Namun ada yang harus diketahui untuk pengguna Google Adsense pada tahun-tahun ini, bahwa Google lebih smart sekarang untuk meng-counter marketer yang membuat ribuan situs hanya untuk berpenghasilan dari Adsense.

Tapi Anda tidak usah kuatir bila Anda memang orang yang berniat untuk menghasilkan income dari Adsense Anda bisa menggunakan Authority Site yang di buat oleh AsianBrain. Dengan Authority Site anda dapat menghasilkan pendapatan Adsense seperti seorang anak STM yang mendapat penghasilan $120 dalam sebulan. Untuk melihat laporan keuangannya dapat dilihat di link berikut.

Bila Anda mencoba untuk menggunakan Blog untuk Adsense buatlah Blog Anda semenarik mungkin. Sehingga dengan banyaknya pengunjung banyak pula kemungkinan kita memperoleh klik. Dan terakhir jangan berbuat curang dengan mengklik Adsense Anda sendiri. Robot Search Engine Google lebih canggih dari yang Anda bayangkan. Yang bisa Anda lakukan adalah mengoptimalkan Website Anda, seperti meningkatkan content dan promosi agar semakin banyak traficc yang Anda dapatkan.

Selamat Bekarya….

Barcode


Pada 1932, Wallace Flint membuat sistem pemeriksaan barang pada perusahaan retail. Awalnya, teknologi Barcode berada di bawah kendali perusahaan retail. Lalu, teknologi batang atau barcode diikuti oleh perusahaan industri. Setelah itu pada 1948, seorang pemilik toko makanan lokal meminta Drexel Intitute Technology di Philadelphia, untuk membuat sistem pembacaan informasi produk secara otomatis.

Setelah itu, Norman Joseph Woodland dan Bernard Silver, lulusan Drexel patent application, bergabung ubtuk mencari solusi tentang sistem pembacaan informasi produk secara otomatis. Woodland mengusulkan penggunaan tinta yang sensitif terhadap sinar ultraviolet pada sistem pembacaan otomatis, tapi usul tersebut ditolak karena tidak stabil dan mahal.

Kemudian, pada 20 Oktober 1949, Woodland dan Silver berhasil membuat prototipe sistem pembacaan informasi otomatis yang lebih baik. Akhirnya, pada 7 Oktober 1952, Woodland dan Silver mendapatkan hak paten dari hasil penelitian yang mereka lakukan. Untuk pertama kalinya, barcode digunakan secara komersial pada 1970 saat Logicon Inc. membuat Universal Grocery Product Identification Standard (UGPIC).
Continue reading

Frekuensi satelit C-band,Ku-Band atau Ka-band


Sistem Komunikasi Satelit adalah salah satu sarana atau infrastruktur yang dapat digunakan untuk aplikasi broadband multimedia. Dalam dunia sistem komunikasi satelit, frekuensi C-band telah lama digunakan dan saat ini telah penuh. Dan telah lama pula dunia menerapkan frekuensi Ku-band untuk sistem komunikasi satelit karena dengan frekuensi ini aplikasi broadband bisa lebih baik digunakan (bandwidth lebih lebar). Selain keuntungan lainnya, yaitu terhindar dari interferensi dengan sistem microwave terestrial yang banyak memakai frekuensi C-band. Namun bagi Indonesia penggunaan frekuensi Ku-band ini memerlukan pengkajian yang cermat, karena frekuensi di atas 10 GHz. rentan terhadap hujan, terlebih hujan deras yang sering melanda Indonesia. Tulisan ini mengkaji kemungkinan pemakaian frekuensi Ku-band untuk sistem komunikasi satelit di Indonesia.

Tahun 1976, Presiden Suharto memberi nama Satelit Indonesia yang pertama dengan nama PALAPA. Pada saat itu Indonesia menjadi negara ketiga di dunia yang memakai satelit sebagai infrastruktur telekomunikasinya. Indonesia bisa berbangga hati dengan hal ini, karena negara tetangga kita Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand belum memperhatikan dunia persatelitan.

Memang secara geografis Indonesia yang terdiri dari pulau – pulau dan terbentang luas dari Barat sampai ke Timur, dari Utara sampai ke Selatan, layak mempunyai satelit untuk sistem komunikasinya. Karena dengan satelit liputan atau cakupannya luas, cepat proses penggelarannya (bandingkan dengan penggelaran serat optik yang harus menggali tanah), tidak tergantung pada kondisi alam, dan jarak.

Di kawasan Asia Tenggara/ Asia Timur penggunaan satelit untuk layanan komunikasi suara maupun data, saat ini Indonesia tidak sendiri lagi. Duapuluh tahun sejak tahun bersejarah 1976, Malaysia dan Thailand juga meluncurkan satelitnya sendiri, kemudian Singapura dan Taiwan secara patungan membuat satelit sendiri pada tahun 1998. Selain itu Hongkong mempunyai satelit juga, demikian pula Korea (Koreasat) dan Jepang (JCSAT). Ternyata, bahwa pita frekuensi yang digunakan pada komunikasi satelit juga mengalami perkembangan. Disamping penggunaan frekuensi “C-band”, maka penggunaan “Ku-band” semakin populer, walaupun operator-operator satelit di Indonesia masih ragu akan kelayakan teknis penggunaan Ku – band tersebut.

Terobosan baru di bidang persatelitan di Indonesia perlu dilakukan, misalnya pemakaian frekuensi di atas 10 GHz., yaitu Ku-band (11 s/d 18 GHz) dan Ka-band (20 s/d 30 GHz). Karena semakin tinggi frekuensi akan dapat semakin besar bandwidth-nya. Pemakaian frekuensi di atas 10 GHz.memang ada masalah, yaitu semakin tinggi frekuensi, akan semakin tinggi redaman hujannya. Semakin tinggi redaman hujan akan semakin menurunkan link-availability-nya.

Indonesia oleh International Telecommunications Union – ITU digolongkan sebagai region P, di mana intensitas hujannya termasuk sangat tinggi. Intensitas hujan yang mengakibatkan link-komunikasi putus sebesar 0.01% per tahun di Indonesia adalah sebesar 145 mm/h, demikian versi ITU. Dengan intensitas hujan yang demikian dapat menimbulkan redaman hujan pada link satelit yang bekerja pada frekuensi 14 GHz. sebesar 26 dB, cukup besar. Redaman sebesar ini harus dikompensasi dengan perangkat RF yang besar di sisi pemancar. Seberapa besarkah? Nilainya bisa dihitung dengan analisa link-budget. Lalu apakah kita pesimis tidak bisa memakai frekuensi ini? Marilah kita pelajari dengan seksama. Apakah hujan akan terjadi terus menerus sepanjang tahun ? Jelas tidak. Apakah jika hujan terjadi pasti akan terjadi redaman sebesar 26 dB? Juga tidak, karena redaman hujan tergantung pada besarnya intensitas hujan di suatu tempat. Jelas ada harapan pemakaian frekuensi di atas 10 GHz.( Ku-band) di Indonesia.

Rainfall Rate

Rainfall Rate (intensitas curah hujan) adalah salah satu faktor penentu besarnya rain attenuation (redaman hujan) dalam propagasi sistem komunikasi wireless (nirkabel) termasuk sistem komunikasi satelit. Pengukuran dan pencatatan di lapangan dalam kurun waktu yang cukup lama merupakan cara (empiris) terbaik untuk mengetahui intensitas curah hujan di suatu negara, yang kemudian data itu dapat dipakai untuk berbagai kalkulasi peredaman sinyal karena hujan. Cara lain adalah mengandalkan pada model-model yang dikembangkan secara teori oleh fihak-fihak tertentu, seperti misalnya model ITU-R Rep. 563-4 serta model Global Crane. Walaupun kedua model tersebut sering dipakai untuk menghitung redaman hujan di Indonesia, namun kedua model itu oleh beberapa ahli dianggap kurang tepat karena terlalu sedikitnya sampel yang dipakai untuk membuat kedua model tersebut. Indonesia sangat beruntung karena telah melakukan beberapa penelitian mengenai hal ini (walaupun mungkin masih dapat diperbanyak lagi), sehingga dapat menyusun model yang semakin akurat. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan di kepulauan Indonesia tercatat ada sembilan lokasi di wilayah negara RI, yaitu di Jatiluhur, Cibinong, Denpasar, Padang, Surabaya, Bandung, Tanahmerah, Putussibau, dan Maros dan satu lokasi di Singapura, yaitu Bukit Timah, yang secara geografis terletak pada posisi yang sama dengan Indonesia.

Hasilnya menunjukkan intensitas curah hujan untuk persen waktu pengamatan 0.01% (R0.01) sebagai berikut:

Location Measurements Results ITU-R Rep.563-4 Global Crane
Jatiluhur 109.2 mm/h 145 mm/h 147 mm/h
Surabaya 119.6 mm/h 145 mm/h 147 mm/h
Bandung 120 mm/h 145 mm/h 147 mm/h
Singapura 125.5 mm/h 145 mm/h 147 mm/h
Denpasar 109 mm/h 145 mm/h 147 mm/h
Tanahmerah 138 mm/h 145 mm/h 147 mm/h
Cibinong 159 mm/h 145 mm/h 147 mm/h
Maros 148 mm/h 145 mm/h 147 mm/h
Putussibau 152 mm/h 145 mm/h 147 mm/h
Padang 146 mm/h 145 mm/h 147 mm/h
Tabel 1.1. Hasil Pengukuran Intensitas hujan R0.01 di Indonesia

Catatan; Disamping model ITU dan model Global Crane, juga terdapat model dari Rice-Holmberg dan model ESA/ Salonen Baptista Dalam tabel ini tampak perbedaan-perbedaan yang cukup besar antara hasil pengukuran di lapangan dan perhitungan mengikuti beberapa model-moel terkenal. Model Prediksi Rainfall Rate (Intensitas Hujan) di Indonesia.

Dengan adanya pengukuran di lapangan seperti disampaikan diatas, maka dengan lebih akurat dan yakin dapat kita susun model prediksi intensitas hujan yang berlaku khas untuk Indonesia. Memanfaatkan data tersebut di atas ditambah data hujan dan jumlah hari badai petir (thunderstorm day) dari Badan Meteorologi dan Geofisika Departemen Perhubungan RI dapat dibuat model prediksi intensitas hujan R0.01 untuk kepulauan Indonesia, yaitu:

  • R0.01 = f(Lat,Long,M,Mm) = 128.192 – 0.037Lat – 0.393Long + 0.012M + 0.017Mm
  • R0.01 = rainfall-rate 0.01 percent of time in a year (mm/h)
  • M = average rainfall a year (mm)
  • Mm = maximum rainfall (monthly) in 30 years
  • Lat = latitude
  • Long = longitude

Model inilah yang seyogyanya digunakan dalam perancangan link komunikasi nirkabel (WLL/LOS, Satelit) Model Prediksi Rain Attenuation (redaman hujan).

Rain attenuation untuk keperluan link komunikasi nirkabel dapat dihitung dengan model – model:

  • ITU – R (formerly CCIR Model)
  • SAM (Simple Attenuation Model)
  • Global Crane Model
  • Model DAH (Dissanayake, Allnutt, Haidara Model)

Untuk konfirmasi tentang model yang sebaiknya digunakan di Indonesia perlu dilakukan pula pengukuran-pengukuran lapangan. Pengukuran redaman hujan di Indonesia untuk lintas (link) komunikasi satelit pernah dilakukan di Padang, Cibinong, Surabaya, dan Bandung. Ternyata, bahwa setelah dianalisa, model prediksi redaman hujan dari DAH cocok untuk Indonesia, selain model ITU. Model DAH ini sejak 2001 telah menjadi rekomendasi ITU untuk digunakan, (Recommendation no. ITU-R P.618-7).

Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan model prediksi rainfall rate di atas , didapat rainfall rate untuk beberapa lokasi di Indonesia. Nilai rainfall rate tersebut kemudian digunakan untuk menghitung nilai peredaman hujan (rain attenuation) dengan memakai model DAH . Dari nilai rain attenuation tersebut dapat dihitung perkiraan “link-availability” (keadaan dimana hubungan/link tidak terputus karena lemahnya sinyal) untuk sistem Ku-band di Indonesia. Hasil perhitungan oleh penulis menunjukkan bahwa pemakaian sistem Ku-band untuk sistem komunikasi satelit layak dengan link-availability sebesar 99.7%.

Sebagai pengalaman praktis berdasarkan hasil uji lapangan untuk data rate 512 kbps dengan memakai antena 1.8 m, daya RF 4 watt dan jarak antara pemancar dan penerima 180 km, kami temukan bahwa link-availability – nya 99.9%.

Penggunaan Ku-band di daerah Tropis

Pemakaian Ku-band pada komunikasi satelit di daerah tropis seperti Indonesia tampaknya akan semakin gencar. Kami amati bahwa beberapa satelit yang “parkir” di atas Indonesia sudah mempunyai transponder Ku-band, bahkan Ka-band. Silakan lihat satelit milik Newskies (NSS 6) yang diluncurkan pada bulan Desember 2002 lalu yang berada pada posisi 95† BT hanya berisi Ku-band dan cakupan geografisnya (footprint) mengarah ke Indonesia (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku). Demikian pula satelit iPSTAR yang akan diluncurkan di tahun 2004 ini. Juga Measat 3 milik Malaysia yang akan diluncurkan pada tahun 2005 mendatang, yang akan berdampingan (collocated) dengan Measat 1 bakal mempunyai 24 transponder Ku-band. Cakupan geografis Ku-band yang mengarah ke Indonesia diberi nama oleh Measat “Ku-band beam for Indonesia”. Measat 4 bahkan direncanakan akan mempunyai cakupan seluruh Indonesia dari Barat sampai ke Timur. Satelit ini akan diluncurkan oleh Malaysia pada tahun 2007.

Mengapa para perancang satelit – satelit itu berani menggunakan frekuensi Ku-band? Tentunya mereka telah menghitung secara teknis kelayakannya disamping menerapkan sistem regeneratif, yaitu pengaturan daya jika terjadi hujan atau disebut juga Automatic Link Control pada satelit yang dapat mengkompensasi redaman hujan sampai sebesar 10 dB. Selain dari itu, saat ini untuk segmen bumi (ground segment) juga ada perkembangan baru yakni, penerapan AUPC (automatic uplink power control) dan Turbo Coding. AUPC sebenarnya telah lama ada, tetapi baru diproduksi secara masal pada saat ini. Dengan AUPC ini kita dapat mengatur secara otomatis daya pancar sesuai dengan redaman yang terjadi, umumnya sampai 9 dB.

Sedangkan dengan Turbo Coding kita juga bisa menghemat daya yang digunakan, sehingga dengan daya pancar yang sama kita akan mendapatkan fade margin yang lebih besar dibandingkan dengan modem satelit yang tidak memakai Turbo Coding. Bahkan saat ini sedang dikembangkan Adaptive Coding, yaitu sistem akan beradaptasi dengan kondisi cuaca. Sistem akan mengubah modulasi ketika terjadi perubahan cuaca (hujan), tetapi tetap mempertahankan lebar pita (bandwidth), hanya throughput akan turun. Dengan adaptive coding ini link-availability akan meningkat.

Ada satu masalah lain dalam persatelitan, yaitu : aplikasi TCP/IP sulit lewat di link satelit, karena waktu delay yang besar. Memang TCP/IP dirancang untuk waktu delay rendah, karena dilewatkan pada hubungan teresterial. Apakah masalah ini tidak ada solusinya? Ternyata ada, antara lain membuat ulang algoritma TCP (re-engineering), TCP spoofing, dan IP over DVB. Selain ada pula yang merancang TCP over satelit (http://www.idirect.net/) Saat ini masalah ini sudah bukan merupakan halangan lagi. Sehingga VPN Services over Satellite bukan suatu hal yang diimpi-impikan tetapi sudah terbukti bisa diterapkan.

Bisa dibayangkan jika berbagai teknologi baru ini digabungkan. Sudah waktunya Indonesia meninggalkan keengganan atau kekuatiran memakai frekuensi Ku-band. Sistem layanan jasa satelit yang murah akan sangat menolong proses pencerdasan bangsa, karena bagi Indonesia yang luas ini infrastruktur teknologi informasi yang cocok adalah satelit. Bisa dibayangkan kalau ATM ( Anjungan Tunai Mandiri ) yang bisa bergerak lincah, demikian pula Warung Internet yang bisa berpindah-pindah. Penetrasi jasa perbankan akan semakin pesat, demikian pula Internet. Distance learning atau e-learning pun bisa digelar dengan relatif murah dan cepat. Bahkan tidak tertutup kemungkinan Indonesia bisa menggelar Pemilu On-line dengan VSAT. Kelincahan hanya akan bisa dilakukan, jika perangkat yang dipakai compact dan kecil. Dengan sistem Ku-band kita bisa melakukan hal ini.

sumber :http://spacejournal.ohio.edu/issue8/pers_setiyanto_indo.html

vsat


  1. VSAT atau “Very Small Aperture Terminal ” adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan terminalterminal stasiun bumi dengan diameter yang sangat kecil.

vsatanim

  1. Pada umumnya VSAT diletakan langsung di site pengguna. Seorang end user VSAT memerlukan perangkat untuk menghubungkan komputernya dengan antena luar yang mempunyai transceiver
  2. Transceiver menerima atau mengirim sinyal ke transponder
    satelit di angkasa. Satelit menerima sinyal dari bumi,
    menguatkan dan mengirimkan kembali sinyal ke bumi. Continue reading