Blended Learning


Blended Learning, bisa juga disebut dengan Hybrid Learning, sesuai dengan namanya merupakan suatu metode pembelajaran yang mengkombinasikan metode pembelajaran tatap muka dengan online learning.

Metode pembelajaran bisa berupa tatap muka sehari – hari, kemudian ada beberapa komponen pembelajaran e – learning yang disisipkan, maupun sebaliknya, kebanyakan pembelajaran e- learning, lalu disisipkan metode tatap muka untuk review atau untuk ujian.

Ada yang perlu diperhatikan oleh peserta saat hendak mengikuti metode pembelajaran ini adalah komitmen waktu untuk mempelajari suatu topik, kemampuan untuk beradaptasi dengan metode pembelajaran yang berbeda dari biasanya,

Metode pembelajaran ini bisa jadi menjadi suatu solusi yang baik untuk memenuhi kebutuhan market, dimana metode pembelajaran tatap muka dirasa sulit karena adanya kendala waktu maupun tempat, adanya pengurangan biaya operasional, peserta dapat menentukan sendiri kecepatan mereka dalam belajar, tidak terikat waktu namun tetap harus memiliki komitmen.

Mari kita lihat dari sisi peserta
Kelebihan untuk “saya sebagai peserta”:

  • Belajar kapan pun saya mau
  • Belajar dengan kecepatan yang saya inginkan
  • Mendapatkan pengalaman belajar dengan metode berbeda
  • Ada waktu untuk memperdalam suatu topik, sebelum membahas dengan trainer

Kekurangannya:

  • Harus memiliki komitmen waktu, karena saat tidak face-to-face tidak ada waktu tersendiri untuk belajar

Kesimpulannya, bisa kita katakan bahwa blended learning memberikan peserta suatu kesempatan untuk mempelajari/mengembangkan suatu keahlian berdasarkan self motivation, manajemen waktu dan konsentrasi (kemampuan untuk tetap fokus)

Sekarang kita lihat dari sisi pemberi training, sisi pemberi training disini dalam hal ini bisa jadi adalah lembaga yang menyediakan training, maupun perusahaan yang men-support blended learning

Kelebihan untuk “saya sebagai penyedia training”:

  • Beban biaya operasional training berkurang, begitu juga dengan biaya instruktur yang harus dibayarkan
  • Untuk perusahaan, karyawannya masih tetap ada di kantor bekerja sekaligus mempelajari suatu keahlian/topik
  • Konten training bisa diadaptasikan sesuai kebutuhan bisnis

Kekurangannya:

  • Saya harus mencari orang yang tepat untuk mendeliver materi agar tujuan dari pembelajaran benar – benar tersampaikan
  • Peserta tetap membutuhkan face-to-face untuk melengkapi pembelajaran
  • Training harus lebih serius, tidak sekedar main – main

Profesor McGinnis (2005) dalam artikelnya yang berjudul ‘Building A Successful Blended Learning Strategy’, menyarankan 6 hal yang perlu diperhatikan manakala orang menyelenggarakan blended learning.

Ke-enam hal tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Penyampaian bahan ajar dan penyampaian pesan-pesan yang lain (seperti pengumuman yang berkaitan dengan kebijakan atau peraturan) secara konsisten.
  2. Penyelenggaraan pembelajaran melalui blended learning harus dilaksanakan secara serius karena hal ini akan mendorong siswa cepat menyesuaikan diri dengan sistim pendidikan jarak jauh. Konsekuensinya, siswa lebih cepat mandiri.
  3. Bahan ajar yang diberikan harus selalu mengalami perbaikan (updated), baik dari segi formatnya maupun ketersediaan bahan ajar yang memenuhi kaidah ‘bahan ajar mandiri’ (self-learning materials) seperti yang lazim digunakan pada pendidikan jarak jauh.
  4. Alokasi waktu bisa dimulai dengan formula awal 75:25 dalam artian bahwa 75% waktu digunakan untuk pembelajaran online dan 25% waktu digunakan untuk pembelajaran secara tatap muka (tutorial). Karena alokasi waktu ini belum ada yang baku, maka penyelenggara pendidikan bisa membuat ‘uji coba’ sendiri, sehingga diperoleh alokasi waktu yang ideal.
  5. Alokasi waktu tutorial sebesar 25% untuk tutorial, dapat digunakan khusus bagi mereka yang tertinggal, namun bila tidak memungkinkan (misalnya sebagian besar siswa menghendaki pembelajaran tatap muka), maka waktu yang tersedia sebesar 25% tersebut bisa dipakai untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan siswa dalam memahami isi bahan ajar. Jadi semacam penyelenggaraan ‘remedial class’.
  6. Dalam blended learning diperlukan kepemimpinan yang mempunyai waktu dan perhatian untuk terus berupaya bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran.

 

Selanjutnya secara lebih spesifik Profesor Steve Slemer (2005) dan Soekartawi (2005b) menyarankan enam tahapan dalam merancang dan menyelenggarakan blended learning agar hasilnya optimal. Ke-enam tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tetapkan macam dan materi bahan ajar, kemudian ubah atau siapkan bahan ajar tersebut menjadi bahan ajar yang memenuhi syarat untuk pendidikan jarak jauh. Karena medium pembelajarannya adalah blended – learning, maka bahan ajar sebaiknya dibedakan atau dirancang untuk tiga macam bahan ajar, yaitu:
    1. Bahan ajar yang dapat dipelajari sendiri oleh siswa,
    2. Bahan ajar yang dapat dipelajari melalui cara berinteraksi melalui cara tatap-muka, dan Bahan ajar yang dapat dipelajari melalui cara berinteraksi melalui cara online/web-based learning.
  2. Tetapkan rancangan dari blended learning yang digunakan. Pada tahap ini diperlukan ahli e-Learning untuk membantu. Intinya adalah bagaimana membuat rancangan pembelajaran yang berisikan komponen pendidikan jarak jauh dan tatap-muka yang baik. Karena itu dalam membuat rancangan pembelajaran ini, perlu diperhatikan hal-hal yang berkaitan antara lain:
    1. Bagaimana bahan ajar tersebut disajikan.
    2.  Bahan ajar mana yang bersifat wajib dipelajari dan mana yang sifatnya anjuran guna memperkaya pengetahuan siswa.
    3. Bagaimana siswa bisa mengakses dua komponen pembelajaran tersebut.
    4. Faktor pendukung apa yang diperlukan. Misalnya software apa yang digunakan, apakah diperlukan kerja kelompok, apakah diperlukan learning resource centers (sumber pembelajaran) di daerah-daerah tertentu.
  3. Tetapkan format dari on-line learning- apakah bahan ajar tersedia dalam format html (sehingga mudah di cut and paste) atau dalam format PDF (tidak bisa di cut and paste). Juga perlu di beritahukan ke siswa dan guru hosting apa yang dipakai, yaitu apakah on-line learning tersebut menggunakan internet link apa ?. apakah Yahoo, Google, MSN atau lainnya.
  4. Lakukan uji terhadap rancangan yang dibuat. Ini maksudnya apakah rancangan pembelajaran tersebut bisa dilaksanakan dengan mudah atau sebaliknya. Cara yang lazim dipakai untuk uji seperti ini adalah melalui cara ‘pilot test’. Dengan cara ini penyelenggara blended learning bisa minta masukan atau saran dari pengguna atau peserta pilot test.
  5. Selenggarakan blended learning dengan baik sambil juga menugaskan instruktur khusus (dosen/guru) yang tugas utamanya melayani pertanyaan siswa, apakah itu bagaimana melakukan pendaftaran sebagai peserta, bagaimana siswa atau instruktur yang lain melakukan akses terhadap bahan ajar, dan lainlain. Instruktur ini juga bisa berfungsi sebagai petugas promosi (public relation) karena yang bertanya mungkin bukan dari kalangan sendiri, tetapi dari pihak lain.
  6. Siapkan kriteria untuk melakukan evaluasi pelaksanaan blended learning. Memang banyak cara bagaimana membuat evaluasi ini, namun Semler (2005) menyarankan sebagai berikut:
    1. Ease to navigate, dalam artian seberapa mudah siswa bisa mengakses semua informasi yang disediakan di paket pembelajaran yang disiapkan di komputer. Kriterianya: makin mudah melakukan akses adalah makin baik.
    2. Content/substance, dalam artian bagaimana kualitas isi instruksional yang dipakai. Misalnya bagaimana petunjuk mempelajari isi bahan ajar, bagaimana bahan ajar itu disiapkan, apakah bahan ajar yang ada sesuai dengan tujuan pembelajaran, dan sebagainya. Kriterianya: makin mendekati isi bahan ajar itu dengan tujuan pembelajaran adalah makin baik.
    3. Layout/format/appearance, dalam artian apakah paket pembelajaran (bahan ajar, petunjuk belajar, atau informasi lainnya) disajikan secara profesional. Kriterianya: makin baik penyajian bahan ajar adalah makin baik.
    4. Interest, dalam artian sampai seberapa besar paket pembelajaran (bahan ajar, petunjuk belajar, atau informasi lainnya) yang disajikan mampu menimbulkan daya tarik siswa untuk belajar. Kriterianya: bila paket pembelajaran yang disajikan mampu menimbulkan siswa untuk terus tertarik belajar adalah makin baik.
    5. Applicability, dalam artian seberapa jauh paket pembelajaran (bahan ajar, petunjuk belajar, atau informasi lainnya) yang disajikan bisa dipraktekkan secara mudah. Kriterianya: makin mudah dipraktekkan adalah makin baik.
    6. Cost-effectiveness/value, dalam artian sampai seberapa murah biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti paket pembelajaran tersebut. Kriterianya: semakin murah semakin baik.

 

 

sumber :

Soekartawi, A. Haryono dan F. Librero, (2002), Greater Learning Opportunities Through Distance Education: Experiences in Indonesia and the Philippines. Southeast Journal of Education

McGinnis, M. (2005). Building A Successful Blended Learning Strategy, (http://www.ltimagazine.com/ltimagazin e/article/articleDetail.jsp?id=167425),

Advertisements

PENERAPAN GOOGLE FOR EDUCATION SEBAGAI PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS ICT


PENERAPAN GOOGLE FOR EDUCATION SEBAGAI PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS ICT

Firman Riyadi

Email : 

 

Abstrak : Pembelajaran disekolah menjadi sebuah beban baik bagi siswa maupun orang tua, Tuntutan untuk mendapat nilai yang baik membuat beban bukan hanya dari sisi siswa, orang tua dan guru tetapi juga dari sisi pemerintah. Ini terlihat dari pemberitaan di media massa dimana kepala daerah memberikan komentar terkait tingkat kelulusan Ujian Nasional. Tuntutan akan nilai yang baik seringkali menghilangkan sisi pendidikan karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, ikhlas, tolong menolong, dan bersyukur. Sistem pembelajaran yang satu arah dan hanya mengejar nilai pada akhirnya hanya akan membuat master of none yaitu siswa belajar banyak hal tetapi tidak memahami dan mendalami apa yang dipelajarinya. Belajar itu harusnya menyenangkan karena yang menyenangkan itu akan mudah diingat.E-learning sebagai metode pembelajaran yang memanfaatkan ICT (Information communication and Technology) membuat pembelajaran jadi lebih menyenangkan karena dapat diakses dimana saja, dapat di ulang, lebih interaktif dan lebih effesien. Teknologi yang dapat di implemetasikan di E-learning mulai dari teks, film, gambar bahkan animasi dengan tidak menghilangkan sisi pendidikan karakternya.

 

Keyword :Google for education. collaborative learning,ICT, Student center learning

Continue reading

bukan Coretan di dinding


cyberschool free access for fast inform anything, connecting to all resource (human resource, compute,etc) making for unlimited possibility. Penggunaan teknologi internet memberikan konsep baru untuk saling bekerjasama menggabungkan berbagai human resource, infrastuktur, capital  sehingga memungkinkan untuk menciptakan budaya unlimited possibility. Penggabungan berbagai disiplin ilmu memberikan kemungkinan untuk membuat berbagai penemuan-penemuan baru. Teknologi yang tepat akan meningkatkan value dari suatu produk, produk yang baik akan meningkatkan loyalitas consumer,  consumer yang loyal akan menjadi salah satu media advertising yang efektif dengan menceritakan benefit dari produk tersebut.

Cyberschool_02

E-learning, Electronic learning atau saya lebih suka menyebutnya sebagai enjoy learning, kenapa enjoy learning karena untuk belajar kita harus bisa menikmati proses belajar tersebut, sesuatu yang bisa dinikmati atau sesuatu yang menyenangkan itu akan lebih mudah di ingat atau di pahami dari pada sesuatu yang menyakitkan atau tidak disenangi (ini bukan curcol ya).

Continue reading

10 best apps chrome


Gmail Offline

Gmail is one of the most widely used email services around, but what are you supposed to do when you need that vital assignment email and there’s no Internet access around? Simple: Grab the Gmail Offline appfor Chrome beforehand and never worry about connectivity again.

The Gmail Offline interface is a little different, based more around the mobile app than the web app, and it’s still technically a beta product—meaning a few speed bumps are certainly possible. It’s still tremendously useful, though. Gmail Offline saves message drafts and sends them when you’ve regained Internet access. It also stores local, synchronized copies of your mail so that you can search, archive, and read your messages even when there’s no Internet to be had.

Todoist

Todoist is a powerful and well-designed task manager-slash-to-do list app, and it’s built from the ground up to be optimized for HTML5. That helps Todoist perform like greased lightning, while its robust core capabilities are augmented by offline capabilities and handy mobile apps.

But consider paying $30 per year for a premium Todoist subscription if you plan to use it often. It unlocks a far more full-fledged feature set, including custom filters, more labeling power, the ability to add attachments and notes to tasks, and features designed to supercharge collaboration. Free is often the best choice for those heading off to college, but the upgrade is worthwhile if you like what Todoist offers.

 

Codeanywhere

caw1

As the name implies, Codeanywhere is a cross-platform coding platform with a solid Chrome app. It enables you to do actual coding work from a Chromebook or keep your work synced up across different computers or applications.

It’s also a good place to start if you’re in the introductory stages of coding or starting a computer science program, as the site is very user-friendly and offers several solid tutorials.

Sunrise Calendar

Google Calendar does a solid job at keeping a single calendar organized, but keeping track of multiple accounts requires something more robust. Sunrise Calendar can handle multiple Google accounts, along with iCloud and Facebook calendars. Joining a Facebook event and having it automatically show up in your calendar takes pretty much all the pain out of staying organized.

Sunrise, like other offline Chrome apps, functions much like a traditional desktop app—it can be pinned to the taskbar or dock and even runs in its own window. And beyond its rich features, Sunrise sports an attractive minimalist design.

Pixlr Editor

Excellent options abound in the world of photo editing, but only one of those options exclusively calls the web home. Pixlr Editor is a fairly powerful photo editor that should meet the needs of all but the most hardcore graphic arts students.

Now, Pixlr Editor is certainly is not as full-featured as PhotoShop, but it’s vastly more powerful than Microsoft Paint, and it can handle the vast majority of tasks well. It even has layer support! Of particular note, Pixlr also offers a Google Drive plugin that lets you choose a photo from your Drive storage, open it directly into Pixlr Editor, and then save it back to the cloud.

Evernote

evernote

Evernote can be as all-inclusive or focused as you make it. For some it’s a good place to store screen shots and lecture notes. For others, it’s an all-in-one depository for projects and files, complete with collaborator-shared notebooks and audio clips a-plenty.

The only caveat is that the Chrome version of Evernote isn’t quite as well-designed its desktop counterparts. But if you’re on a Chromebook or simply don’t like clogging up your computer with software, the web app is robust enough, stuffed full of support for note-taking, reminders, audio notes, images, and more. Grab the supplementary Evernote Web Clipper extension for Chrome,  and you’ll be able to save chunks of websites in your notes, complete with the ability to annotate and highlight the clipped pages.

Google Keep

If you need a note-keeping program for short items, Google Keep is an excellent choice, as the interface is essentially a digital version of physical Post-It notes. Different note colors are available to help you keep things organized, and the service also supports lists. There’s no need to manually save things, ever, as Keep automatically syncs content as you type.

There’s only one big gotcha: While a polished Android version of Keep is also available, it isn’t available on any other mobile platforms. This could be a problem if you need to jot something down spur-of-the-moment

My Study Life

my_study_life

My Study Life stands out by providing a blend of calendar/to-do list functionality specifically tailored for students. The Chrome app lets you input specific details of your school schedule—like who teaches a particular class—and create alerts for assignments and exams. You can also track the progress on your assignments, marking them with a completion percentage.

The My Study Life launch screen wraps up this content in an attractive package, providing a nice overview of all the upcoming details for the school week. My Study Life also has an app for Android and iOS that syncs with the Chrome version, so you can stay on top of your workload across mobile and desktop alike.

Kindle Cloud Reader

More and more textbooks are going digital—seemingly by the day—and Amazon’s Kindle platform is dominant. Say hello to the Kindle Cloud Reader app for Chrome. Being able to access your ebooks straight from the web frees you from needing to drag a hard-bound book or tablet with you to class. Who doesn’t like a light backpack?

Importantly, note-taking and text highlighting are supported in the Chrome app, and it’s far easier to do those with a keyboard and mouse than by pecking away on a tablet’s virtual keyboard. Your mark-ups sync across the web and all your Kindle devices, and Kindle Cloud Reader even offers the ability to sync your ebooks locally for offline reading.

Google Drive

Forget what you heard years ago: Google’s suite of online productivity apps is now powerful enough to handle most academic tasks, and if you’re assigned the dreaded group project, there is no better way to collaborate with others in real time.

Even better, Google’s main apps—Docs, Sheets, and Slides—now work offline if you install the Chrome Drive app and enable this capability from the settings. Unless you have some higher-level spreadsheet needs, Drive apps are an excellent (and free) alternative to Microsoft Office (which also calls the Chrome Web Store home, in the form of free OfficeOnline apps).

Web-based productivity

Productivity apps are the cold call to reality that summer is ending and it’s time to think about academic tasks. But don’t think you need to spend your all-too-tight cash reserves on pricey desktop software to get your schoolwork done. Between the Chrome browser’s ubiquity on PCs and the surging potency of online capabilities, Google’s Chrome Web Store plays hosts to a legion of superb web-based applications that can tackle practically any productivity challenge.

These 10 Chrome apps will give students (and anyone else!) a well-rounded tool set—one that transforms your browser into a true productivity powerhouse. For even more online awesomeness, be sure to check out PCWorld’s guide to 12 robust websites that can replace your desktop software.

 

Barcode


Pada 1932, Wallace Flint membuat sistem pemeriksaan barang pada perusahaan retail. Awalnya, teknologi Barcode berada di bawah kendali perusahaan retail. Lalu, teknologi batang atau barcode diikuti oleh perusahaan industri. Setelah itu pada 1948, seorang pemilik toko makanan lokal meminta Drexel Intitute Technology di Philadelphia, untuk membuat sistem pembacaan informasi produk secara otomatis.

Setelah itu, Norman Joseph Woodland dan Bernard Silver, lulusan Drexel patent application, bergabung ubtuk mencari solusi tentang sistem pembacaan informasi produk secara otomatis. Woodland mengusulkan penggunaan tinta yang sensitif terhadap sinar ultraviolet pada sistem pembacaan otomatis, tapi usul tersebut ditolak karena tidak stabil dan mahal.

Kemudian, pada 20 Oktober 1949, Woodland dan Silver berhasil membuat prototipe sistem pembacaan informasi otomatis yang lebih baik. Akhirnya, pada 7 Oktober 1952, Woodland dan Silver mendapatkan hak paten dari hasil penelitian yang mereka lakukan. Untuk pertama kalinya, barcode digunakan secara komersial pada 1970 saat Logicon Inc. membuat Universal Grocery Product Identification Standard (UGPIC).
Continue reading

Satelit


ConstellationGPS

satelit

Ditinjau dari daerah cangkupannya satelit digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu :
1. LEO (Low Earth Orbit Satellites)
Satelit yang mengorbit pada ketinggian 500 – 1500 km dari permukaan bumi. Dengan satelit ini memungkinkan digunakan untuk komunikasi suara tanpa menimbulkan delay propagasi dan daya yang relatif kecil.
2. MEO (Medium Earth Satellites)
Satelit yang mengorbit pada ketinggian antara 9000 – 20000 km dari permukaan bumi. Satelit ini memiliki coverage yang lebih sempit dan memiliki delay yang lebih kecil dibandingkan GEO

3. GEO (Geosynchronous Earth Orbit)
Satelit ini mengorbit pada ketinggian kurang lebih 36000 km dari permukaan bumi.

satelit2

Banyak satelit dikategorikan atas ketinggian orbitnya, meskipun sebuah satelit bisa mengorbit dengan ketinggian berapa pun.

  • Orbit Rendah (Low Earth Orbit, LEO): 300 – 1500km di atas permukaan bumi.
  • Orbit Menengah (Medium Earth Orbit, MEO): 1500 – 36000 km.
  • Orbit Geosinkron (Geosynchronous Orbit, GSO): sekitar 36000 km di atas permukaan Bumi.
  • Orbit Geostasioner (Geostationary Orbit, GEO): 35790 km di atas permukaan Bumi.
  • Orbit Tinggi (High Earth Orbit, HEO): di atas 36000 km.

Komponen Sistem Komunikasi Satelit
• Space segment (bagian yang berada di angkasa)
• Ground segment (biasa disebut stasiun bumi)

satelit3

Karakteristik Transmisi Satelit

  •  Jangkauan frekuensi untuk transmisi satelit adalah berkisar pada 1 sampai 10 GHz.
  • Dibawah 1 GHz terdapat noise yang berpengaruh dari alam seperti noise dari galaksi, matahari, atmosfer serta inferensi buatan manusia dari berbagai pelengkapan elektronik.
  • Daitas 10 GHz, sinyal-sinyal akan mengalami atenuasi yang parah akibat penyerapan dan pengendapatan di atmosfer.
  • Frekuensi uplink dan downlink berbeda karena satelit tidak dapat menerima dan mentransmisi dengan frekuensi yang sama pada kondisi operasi terus menerus tanpa interferensi. jadi sinyal sinyal yang diterima dari suatu stasiun bumi satu frekuensi harus ditransmisikan kembali dengan frekuensi yang lain.

Kelebihan Komunikasi Satelit
• Cangkupan yang luas : satu negara, region, bahkan satu benua
• Bandwidth yang tersedia cukup lebar
• Independen dari infrastruktur terestrial
• Instalasi jaringan segmen bumi yang cepat
• Biaya relatif rendah per-site
• Karakteristik layanan dari satu provider
• Layanan mobile/wireless yang independen terhadap lokasi

Kekurangan Komunikasi Satelit
• Delay propagasi yang besar
• Rentan terhadap pengaruh atmosfir
• Modal pembangunan awal yang besar
• Biaya komunikasi untuk jarak jauh dan pendek relatif sama
• Hanya ekonomis jika jumlah user banyak

*Propagasi adalah transmisi atau penyebaran sinyal dari suatu tempat ke tempat lain.

Continue reading

Frekuensi satelit C-band,Ku-Band atau Ka-band


Sistem Komunikasi Satelit adalah salah satu sarana atau infrastruktur yang dapat digunakan untuk aplikasi broadband multimedia. Dalam dunia sistem komunikasi satelit, frekuensi C-band telah lama digunakan dan saat ini telah penuh. Dan telah lama pula dunia menerapkan frekuensi Ku-band untuk sistem komunikasi satelit karena dengan frekuensi ini aplikasi broadband bisa lebih baik digunakan (bandwidth lebih lebar). Selain keuntungan lainnya, yaitu terhindar dari interferensi dengan sistem microwave terestrial yang banyak memakai frekuensi C-band. Namun bagi Indonesia penggunaan frekuensi Ku-band ini memerlukan pengkajian yang cermat, karena frekuensi di atas 10 GHz. rentan terhadap hujan, terlebih hujan deras yang sering melanda Indonesia. Tulisan ini mengkaji kemungkinan pemakaian frekuensi Ku-band untuk sistem komunikasi satelit di Indonesia.

Tahun 1976, Presiden Suharto memberi nama Satelit Indonesia yang pertama dengan nama PALAPA. Pada saat itu Indonesia menjadi negara ketiga di dunia yang memakai satelit sebagai infrastruktur telekomunikasinya. Indonesia bisa berbangga hati dengan hal ini, karena negara tetangga kita Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand belum memperhatikan dunia persatelitan.

Memang secara geografis Indonesia yang terdiri dari pulau – pulau dan terbentang luas dari Barat sampai ke Timur, dari Utara sampai ke Selatan, layak mempunyai satelit untuk sistem komunikasinya. Karena dengan satelit liputan atau cakupannya luas, cepat proses penggelarannya (bandingkan dengan penggelaran serat optik yang harus menggali tanah), tidak tergantung pada kondisi alam, dan jarak.

Di kawasan Asia Tenggara/ Asia Timur penggunaan satelit untuk layanan komunikasi suara maupun data, saat ini Indonesia tidak sendiri lagi. Duapuluh tahun sejak tahun bersejarah 1976, Malaysia dan Thailand juga meluncurkan satelitnya sendiri, kemudian Singapura dan Taiwan secara patungan membuat satelit sendiri pada tahun 1998. Selain itu Hongkong mempunyai satelit juga, demikian pula Korea (Koreasat) dan Jepang (JCSAT). Ternyata, bahwa pita frekuensi yang digunakan pada komunikasi satelit juga mengalami perkembangan. Disamping penggunaan frekuensi “C-band”, maka penggunaan “Ku-band” semakin populer, walaupun operator-operator satelit di Indonesia masih ragu akan kelayakan teknis penggunaan Ku – band tersebut.

Terobosan baru di bidang persatelitan di Indonesia perlu dilakukan, misalnya pemakaian frekuensi di atas 10 GHz., yaitu Ku-band (11 s/d 18 GHz) dan Ka-band (20 s/d 30 GHz). Karena semakin tinggi frekuensi akan dapat semakin besar bandwidth-nya. Pemakaian frekuensi di atas 10 GHz.memang ada masalah, yaitu semakin tinggi frekuensi, akan semakin tinggi redaman hujannya. Semakin tinggi redaman hujan akan semakin menurunkan link-availability-nya.

Indonesia oleh International Telecommunications Union – ITU digolongkan sebagai region P, di mana intensitas hujannya termasuk sangat tinggi. Intensitas hujan yang mengakibatkan link-komunikasi putus sebesar 0.01% per tahun di Indonesia adalah sebesar 145 mm/h, demikian versi ITU. Dengan intensitas hujan yang demikian dapat menimbulkan redaman hujan pada link satelit yang bekerja pada frekuensi 14 GHz. sebesar 26 dB, cukup besar. Redaman sebesar ini harus dikompensasi dengan perangkat RF yang besar di sisi pemancar. Seberapa besarkah? Nilainya bisa dihitung dengan analisa link-budget. Lalu apakah kita pesimis tidak bisa memakai frekuensi ini? Marilah kita pelajari dengan seksama. Apakah hujan akan terjadi terus menerus sepanjang tahun ? Jelas tidak. Apakah jika hujan terjadi pasti akan terjadi redaman sebesar 26 dB? Juga tidak, karena redaman hujan tergantung pada besarnya intensitas hujan di suatu tempat. Jelas ada harapan pemakaian frekuensi di atas 10 GHz.( Ku-band) di Indonesia.

Rainfall Rate

Rainfall Rate (intensitas curah hujan) adalah salah satu faktor penentu besarnya rain attenuation (redaman hujan) dalam propagasi sistem komunikasi wireless (nirkabel) termasuk sistem komunikasi satelit. Pengukuran dan pencatatan di lapangan dalam kurun waktu yang cukup lama merupakan cara (empiris) terbaik Continue reading

wimax


wimax

WiMAX adalah singkatan dari Worldwide Interoperability for Microwave Access.

  • Merupakan teknologi akses nirkabel pita lebar (broadband wirelessaccess atau disingkat BWA) yang memiliki kecepatan akses yang tinggi dengan jangkauan yang luas.
  • Teknologi yang menggunakan OFDM (Orthogonal Frequency Division) ini mampu memberikan layanan data berkecepatan hingga 70 Mbps dalam radius 50 km
  • Standar BWA yang saat ini umum diterima dan secara luasdigunakan adalah Standard yang dikeluarkan oleh Institute of Electrical and Electronics Engineering (IEEE), seperti :

– 802.15 Untuk Personal Area Network (PAN)
– 802.11 untuk jaringan Wireless Fidelity (WiFi)
– 802.16 untuk jaringan Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX)

Continue reading

Antenna


  • Semua pemancar atau penerima memerlukan antena.
  • Antena pemancar melepaskan daya dari pemancar ke udara berupa gelombang elektromagnetik (gelombang radio).
  • Antena penerima mengumpulkan enerji gelombang elektromagnetik serta mengubahnya menjadi arus listrik bolak-balik dan diteruskan ke penerima untuk dideteksi.

Terbentuknya Gelombang Radio

  • Pada saat arus bolak balik mengalir melalui kawat antena, medan listrik dan medan magnit akan terbentuk disekitar kawat.
  • Jika panjang kawat sangat pendek dibanding dengan panjang gelombang arus bolak balik, medan listrik dan medan magnit akan hilang dalam jarak pendek. Jika kawat dipanjangkan, intensitas medan listrik dan medan magnit akan menguat, dengan demikian akan bertambah enerji terlepas dari kawat menuju udara (space).
  • Pada saat panjang kawat mendekati setengan panjang gelombang, hampir semua enerji akan lepas dalam bentuk gelombang radiasi elektro magnetik.

Ilustrasi
Pada sebuah kabel yang lurus, didalam kabel tersebut kita dorong elektron untuk bergerak dari satu ujung ke ujung yang lain bolak-balik secara periodik.

Pada satu saat, ujung atas kabel akan bermuatan negatif-semua elektron negatif berkumpul disitu.

Hal ini menyebabkan terjadinya medan listrik dari plus ke minus sepanjang kabel.
Di saat yang lain, semua elektron didorong ke ujung bawah kabel dan listrik akan berbalik arah.

antenna

Apa yang baru saja kita bahas biasanya dikenal sebagai dipole, karena ada dua pole/kutub, plus dan minus, atau lebih sering dikenal sebagai antena dipole. Hal ini merupakan bentuk paling sederhana dari antenna omnidirectional (segala arah)

Macam-macam Antena Wireless
1. Antena Omnidirectional Continue reading