Elearning


Di Inggris banyak sekolah yang membuat design dan program teknologi sebagai bagian dari pengembangan kurikulum untuk melatih problem solving (pemecahan masalah) dan mengembangkan kreatifitas anak-anak. Anak-anak lebih suka bergerak (mobile), laptop, internet, video dan sosial media untuk mengklarifikasi keraguan mereka dan untuk melakukan tugas-tugas mereka.

Pendidikan online di bingkai untuk mengatasi kesenjangan ketrampilan dan mendapatkan perhatian dari pelajar di seluruh dunia.

Adaptive learning, virtual classroom, Massive Open Online Course(MOOC), synchronous learning, asynchronous learning, blended learning, flipped classroom, self-directed learning,  learning management system, cloud based learning, mobile learning, course management system, e-learning and Gamification adalah konsep teknologi yang guru butuhkan untuk mentraining siswa pada generasi ini

 

Advertisements

Hacker Indonesia atau Indonesia Hacker….#sama aja ya


Sejarah tentang Hack, Hacker, dan Hacking

Sebelum terbentuknya komunikasi yang tercipta di Internet, pada tahun 1960-an beberapa mahasiswa ilmu komputer di Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang gemar untuk melakukan engineering dan re-engineering terhadap perangkat keras dan perangkat lunak sering melakukan diskusi-diskusi terbuka yang disana membahas masalah :

  • Ide-ide mengenai pengembangan perangkat keras dan perangkat lunak
  • Ide-ide mengenai transformasi terhadap teknologi dan informasi

Pengistilahan dan perkataan “Hack” sebenarnya adalah merupakan slang yang pada saat itu belum memiliki arti yang spesifik dan sebenarnya. Kebiasaan-kebiasaan mengucapkan “I Hack This Stuff” seakan-akan memberikan arti bahwa istilah Hack merupakan kegiatan yang sedang dan memperoleh hasil setelah melakukan pengembangan terhadap segala sesuatu yang dilakukan. Pengembangan-pengembangan yang secara khusus diberikan kepada minicomputer dan microcomputer tersebutlah istilah “Computer Hacker” terbentuk.

Dengan kata lain, Computer Hacker adalah seseorang yang mengaplikasikan kemampuan dalam cakupannya mengenai komputer software, komputer hardware, komputer arsitektur, komputer desain, serta administrasi yang terkandung didalamnya. Seorang Hacker dituntut memiliki kemampuan dalam hal pemrograman untuk tingkatan software, dan keahlian dibidang hardware (gw banget tuh 🙂 ). Tuntutan yang sedemikian luasnya untuk keamanan disisi sistem aplikasi dan jaringan, memberikan motivasi bagi seorang Hacker untuk mengembangkan keahlian tersebut sehingga hasil dari penelitian yang dilakukan akan memberikan dampak yang positif bagi kelangsungan IT itu sendiri.

Dengan melihat sekelumit penjelasan diatas, kita dapat memberikan kesimpulan bahwa Hacking bukanlah sebatas pada kegiatan illegal yang identik dengan pengrusakan sebuah sistem dan aplikasi, atau sebatas kegiatan-kegiatan tentang pencurian sebuah data-data penting, melainkan kepada tindakan untuk melakukan perubahan yang mendasar atau perbaikan-perbaikan terhadap sistem dan aplikasi, baik yang berupa software ataupun hardware.

KELOMPOK HACKER BERDASARKAN MOTIF

  • Black Hat Para hacker yang menjelma menjadi cracker / attacker yang menggunakan kemampuannya untuk tujuan kriminal dan cenderung membahayakan kepentingan pihak lain. Pada umumnya orang-orang yang tergabung dalam kelompok ini adalah yang bergerak secara individu atau sesuai idealisme tertentu dan tidak terikat atas kepentingan pihak tertentu.
  • Continue reading

Example METAR codes


Dibawah ini adalah contoh dari kode Metar pada Burgas Airport di Burgas, Bulgaria yang diambil pada tanggal 4 Febuari 2005 jam 16.00  (waktu UTC)

METAR LBBG 041600Z 12003MPS 310V290 1400 R04/P1500N R22/P1500U +SN BKN022 OVC050 M04/M07 Q1020 NOSIG 9949//91=

  • METAR mengindikasikan pengamatan standar perjam dengan Metar code
  • LBBG adalah ICAO airport code untuk Burgas Airport.
  • 041600Z waktu pengamatan. hari ke 4 pada bulan berjalan (the 4th) diikuti waktu pada hari itu  (1600 Zulu time, yang sama dengan 4:00 pm Greenwich Mean Time).
  • 12003MPS menunjukkan arah angin dari 120° (east-southeast) dengan kecepatan 3 MPS (5.8 KT; 6.7 mph; 11 km/h). Ukuran kecepatan bisa bervariasi dari  knots (KT) atau meters/second (MPS).
  • 310V290 menunjukkan arah angin bervariasi dari 310° true (northwest) hingga 290° true (west-northwest).
  • 1400 menunjukkan jarak pandang yang berlaku adalah 1,400 m (4,600 ft).
  • R04/P1500N mengindikasikan jarak pandang pada landasan (Runway Visual Range (RVR)) sepanjang runway 04 adalah 1,500 m (4,900 ft) dan tidak berubah secara signifikan.
  • R22/P1500U mengindikasikan jarak pandang terhadap landasan 22 adalah 1500 m (4900 feet) dan jelas
  • +SN mengindikasikan salju jatuh pada tingkat yang berat,tanda minus atau plus (-/+) menunujukkan ringan atau berat
  • BKN022  mengindikasikan sebuah kerusakan pada lapisan awan(lebih dari setengah langit) pada ketinggian sekitar 670 m(2200 feet) diatas permukaan tanah
  • OVC050 Mengindikasikan lapisan awan yang baik pada ketinggian 1500 m (5000 feet) diatas permukaan tanah.
  • M04/M07  Mengindikasikan suhu adalah −4 °C (25 °F) dan suhu mencair pada is −7 °C (19 °F) sebuah M didepan angka mengindikasikan bahwa temperatur adalah dibawah nol celcius
  • Q1020 mengindikasikan bahwa altimeter disetting (QNH) adalah 1,020 hPa (30.12 inHg).
  • NOSIG adalah contoh dari perkiraan cuaca yang ditambahkan ke METARs code dari stasiun cuaca dengan mencantumkan waktu pada saat penambahan datanya. NOSIG berarti bahwa diharapkan tidak ada perubahan yang signifikan  dari kondisi cuaca yang dilaporkan dalam 2 jam berikutnya.

Continue reading

Google+ Ripples


Di tengah isu tentang kegagalan Google+ menyaingi Facebook, Google+ meluncurkan sebuah fitur analytic yang dinamai dengan Google+ Ripples. Fitur ini sebenarnya memiliki kemiripan dengan fitur terbaru di Facebook insight, karena merupakan sebuah pengukuran dan visualisasi tentang keberhasilan sebuah konten. Pada dasarnya, konten yang baik di social media adalah konten yang tidak hanya dibaca tetapi juga ikut di-share kepada orang lain. Hal tersebut yang akan menyebabkan konten menjadi viral di social media dan menguntungkan bagi sebuah akun, baik itu brand atau personal. Berikut adalah 3  kemampuan dari Google+ Ripples dalam mengukur proses viral dari sebuah konten

1. Visualisasi seberapa jauh sebuah konten tersebar di Google+ dan siapa influencer yang memiliki pengaruh besar dalam membantu proses viral konten tersebut.

Pengguna dapat menelusuri dengan detail siapa-siapa saja orang yang men-share ulang konten kita dan juga kemungkinan kembali di-share ulang oleh teman-teman mereka. Semakin besar lingkaran berarti mengindikasikan semakin banyak content yang di re-share kembali. Sejauh pengamatan saya, orang yang memiliki jumlah teman yang banyak memiliki sangat besar kemungkinan untuk juga dishare ulang oleh temanya di Google+.

2. Visualisasi bagaimana viral konten terjadi melalui rentang waktu.

Google+ Ripples juga mampu memvisulisasikan dinamika penyebaran / viral dari sebuah konten selama waktu rentang tertentu. Ini juga penting untuk memahami kapan timing yang tepat di-publish dan juga melihat siapa saja influencer yang ikut menyumbangkan volume dari konten yang menjadi viral tersebut.

3. Informasi tentang Influencer, Statistik, dan Bahasa

Di bagian ini kita akan memperoleh informasi tentang ranking influencer yang memiliki pengaruh paling besar dalam membantu proses terjadinya viral dari konten kita. Kemudian ada data statistic seperti “average chain length” yang merupakan angka rata2 dari seberapa banyak derajat pertemanan yang dilalui oleh sebuah konten. Setelah itu “Longest chain” yang merupakan angka derajat pertamanan maksimum yang dicapai oleh konten. Terakhir adalah “shares/hour” berupa informasi tentang waktu yang dibutuhkan oleh konten untuk menjadi viral.

Meskipun Ripples menampilkan banyak informasi, tidak semua hal yang terjadi dapat ditampilkan. Misalnya, Ripples hanya memperlihatkan data untuk 53 hari sebelumnya. Selain itu, Ripples hanya menghitung pos yang dishare secara publik, sehingga bisa jadi ada perbedaan antara jumlah share yang Anda lihat pada pos dan jumlah pembagian yang ditampilkan Ripples.

Selain Google+ Ripples, Google+ juga memperkenalkan fitur “What’s hot?”, sebuah fitur yang hampir sama kegunaanya dengan Top Stories di Facebook dan Trending Topic di Twitter. Ada juga Creative Kit di dalam menu photo editing yang kurang lebih hampir sama kemampuanya seperti Instagram untuk mengedit foto secara instan.