public lies


Kapten keyes adalah pemimpin misi khusus pasukan khusus inggris,ayahnya adalah komandan tempur gabungan angkatan laut,ayahnya juga seorang pahlawan pada perang dunia 1, pemilihan kapten keyes bernuansa mencari ketenaran, misi khusus untuk membunuh jendral rommel, jendral nazi jerman yang ditakuti sekutu. Pasukan khusus kapten keyes menyergap kastil jendral rommel, dalam laporan resmi pemerintah inggris, kapten keyes tewas setelah terlibat baku tembak dengan pasukan jerman, kapten keyes membuka sebuah ruangan yang ternyata berisi 10 pasukan jerman yang sedang beristirahat, kapten keyes menutup pintu kembali meminta anak buahnya menyiapkan granat, lalu membuka kembali pintu ruangan terebut kemudian terjadi baku tembak, 2 buah granat dilemparkan, dan kapten keyes tewas tertembak.

Kejadian sebenarnya kapten keyes berkelahi dengan seorang tentara jerman yang badannya jauh lebih besar, anak buah kapten keyes melepaskan tembakan yang salah satunya pelurunya menewaskan kapten keyes, misi itu akhirnya gagal, jendral rommel sendiri tidak berada dikastilnya, pesawatnya mengalami gangguan teknis, dia masih berada di yunani, Jendral rommel tiba dikastilnya beberapa jam setelah kejadian tersebut.

Laporan resmi yang bersifat pembohongan publik untuk menutupi kejadian sebenarnya yang dianggap memalukan.

 

Advertisements

disorientasi spasial


disorientasi spasial

Keadaan kebingungan karena menyesatkan informasi yang dikirim ke otak dari berbagai organ sensorik, mengakibatkan kurangnya kesadaran dari posisi pesawat sehubungan dengan titik acuan tertentu.

Disorientasi spasial dan kebingungan sensorik adalah jarang dilakukan pilot tetapi menjadi alasan yang nyata untuk kecelakaan pesawat terbang (87 % disebabkan human eror)Juga fakta bahwa Segitiga Bermuda menjadi daerah yang ramai lalu lintasnya, daripada di daerah lain, menyebabkan kecelakaan lebih banya terjadi.

Kesalahan manusia kemungkinan besar nomor satu yang menjadi penyebab kematian di bermuda tapi ada sesuatu yang lebih besar benar-benar penyebab dari segala spekulasi.

Disorientasi pemikiran sering kita jumpai di lingkungan kita sehari hari, namun tahukah anda bahwa disorientasi pemikiran adalah salah satu ciri gangguan kejiwaan?Sebelum kita membahas secara lebih detail mengenai disorientasi pemikiran merupakan salah satu ciri gangguan jiwa ada baiknya kita membahas arti atau definisi dari disorientasi terlebih dahulu :

Arti disorientasi menurut kamus adalah :

  1. kekacauan kiblat; kesamaran arah: — pandangan akan timbul apabila terdapat kesenjangan antara organisasi sosial dan sistem nilai kebudayaan;
  2.  kehilangan daya untuk mengenal lingkungan, terutama yg berkenaan dengan waktu, tempat dan orang

Disorientasi berasal dari dua kata yaitu dis yang berarti adanya masalah, gangguan, atau kegagalan dan orientasi. Orientasi sendiri bisa kita lihat dalam kamus inggris : Orientation is a function of the mind involving awareness of three dimensions: time, place and person. Dimensi itu bisa saja bertambah panjang dan komplek. Sedangkan kegagalan atau masalah itu bisa bersifat partial, spatial maupun total.

Orang sering menghubungkan disorientasi ini dengan “kebingungan”. Kebingungan adalah gejala, dan dapat berkisar dari ringan sampai parah. Seseorang yang bingung mungkin mengalami kesulitan memecahkan masalah. Gampang mengantuk, hiperaktif, atau cemas adalah tanda-tanda awal. Pada kasus yang parah, orang mungkin memiliki halusinasi, perasaan paranoia, dan keadaan delirium (mengigau).

Kebingungan tingkat patologis biasanya mengacu pada kehilangan orientasi (kemampuan untuk menempatkan diri dengan benar di dunia dengan waktu, lokasi, dan identitas pribadi) dan sering mengganggu memori (kemampuan untuk benar mengingat peristiwa-peristiwa sebelumnya atau belajar pada sesuatu atau materi yang baru). Kebingungan seperti itu tidak sama dengan ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian.

Apa makna disorientasi dan kebingungan itu bagi kita?. Bagi seorang pengajar, kata orientasi dan disorientasi memiliki makna tersendiri. Penting karena terkait dengan bentuk tanggung jawab profesi dan sosial kita sebagai akademisi. Mahasiswa adalah mitra kita dan kita harus meyakini bahwa apa yang telah, sedang dan akan kita kerjakan bermanfaat bagi mereka. Benang merah antara orientasi/disorientasi dengan tanggungjawab kita sebagai seorang pengajar jelas ada dan hubungannya erat karena terkait dengan output dan outcome.

Disorientasi adalah salah satu “penyakit” yang sadar atau tidak sadar sering menghinggapi kita. Disorientasi tak hanya terjadi karena kepikunan semata-mata atau karena kita bingung mau apa dan mengerjakan apa. Banyak orang yang neuronnya masih bagus juga dapat mengalami kejadian tersebut.

Definisi dari Gangguan Jiwa:

Gangguan jiwa yang dimaksud di sini bukanlah dalam arti pengertian seperti  masyarakat awam katakan sebagai edangendeng dan sejenisnya. Tetapi berupa kesepakatan oleh para ahli yang sudah menekuni dari sisi teori dan praktikalnya sehingga setiap istilah yang digunakan adalah istilah yang memang mengandung arti yang sudah diketahui di kalangan para ahli dan sudah merupakan istilah yang dipikirkan masak-masak.

Gangguan jiwa merupakan suatu kondisi di mana keberlangsungan fungsi mental menjadi tidak normal baik kapasitasnya maupun keakuratannya.

Definisi lain tentang apa itu gangguan jiwa adalah dengan membandingkan dengan definisi kesehatan mental WHO ” Mental health is a state of complete physical, mental and social well-being, and not merely the absence of disease”  (WHO, 2012)” Kurang lebih terjemahan bebasnya adalah : “ Kesehatan mental adalah suatu keadaan lengkap secara fisik, mental, dan kesejahteraan-sosial, dan tidak semata-mata ketiadaan suatu penyakit”.

Di sebagian kalangan istilah-istilah yang berkaitan dengan istilah gangguan jiwa berbeda penggunaannya disesuaikan dengan gejala yang muncul. Istilah tersebut misalnya sakit mental, gangguan mental dan gangguan mental berat, atau hanyalah masalah kesehatan mental. Jika dirujuk dari bahasa Inggris maka serious mental illness pasti lebih berat daripada mental ilness, sedangkan mental disorder mencakup arti yang luas dan tidak terlalu menunjuk pada berat atau ringannya gejala.

Kalau kita telaah dan pelajari definis dari disorientasi dan gangguan kejiwaan maka kita dapat simpulkan sebagai berikut :

  1. Disorientasi pemikiran menyebabkan seseorang tidak dapat menempati diri dengan benar di dunia dengan waktu, lokasi, dan identitas pribadinya.
  2. Gangguan jiwa merupakan gangguan kesehatan dalam keadaan lengkap secara fisik, mental, dan kesejahteraan-sosial.

Ketika seseorang dikatakan disorientasi pemikiran dimana mereka tidak dapat berpikir dan menempatkan diri dengan benar dengan waktu, lokasi dan siapa dirinya. Orang tersebut bisa dikategorikan mengalami gangguan kesehatan baik secara fisik, mental dan sosial. Dengan kata lain orang yang mengalami disorientasi pemikiran memiliki  salah satu ciri orang yang mulai mengalami gangguan jiwa.

Lantas bagaimana kita mengenali seseorang dikatakan hanya disorientasi pemikiran saja atau telah mengalami gangguan jiwa?

Mungkin secara awam kita tidak bisa membedakan mana orang yang hanya mengalami disorientasi pemikiran saja dan yang sudah mengalami gangguan jiwa. Ahli Jiwa atau psikiater atau orang yang telah berpengalaman menangani kasus-kasus kejiwaan yang mungkin dapat menilai bahwa orang yang mengalami disorientasi pemikiran tersebut sudah pada tahap mengalami gangguan jiwa. Apabila orang tersebut sudah pada tahap gangguan jiwa hal ini sudah sangat mengkhawatirkan, bila tidak di berikan penanganan dan pengobatan serius tidak menutup kemungkinan akan bertambah parah dan menjadi orang gila.

Dalam kehidupan sehari-hari, tubuh kita bergantung pada beberapa indera/sensor untuk mengetahui orientasi kita terhadap ruang. Misalnya kita berdiri tegak di sebuah ruangan, maka mata, telinga, hidung, kulit dan otot serta organ keseimbangan “vestibular” di dalam telinga kita memberi persepsi orientasi tubuh ke otak.
Biasanya organ visual/ mata adalah indera utama pada penerbang. Sedangkan indera dari organ vestibular (yang ada dalam telinga) dan somatic (kulit dan sendi) adalah indera kedua yang memberi informasi.
Jadi ada 3 sistem utama yang menterjemahkan orientasi posisi dan arah tubuh kita:
Vestibular system — organ yang ada di dalam telinga yang mendeteksi keseimbangan.
Somatosensory system — syaraf di kulit, otot dan sendi untuk merasakan posisi berdasarkan gravitasi, rasa dan suara.
Visual system  mata.
Sistem vestibular di telinga dalam memungkinkan penerbang untuk merasakan gerakan dan menentukan orientasi di lingkungan sekitarnya. Di dalam kedua telinga bagian dalam kiri dan kanan, tiga saluran setengah lingkaran (semi circular canals) berada pada sudut tegak lurus satu sama lain.

Setiap kanal berisi cairan dan memiliki bagian yang penuh dengan bulu-bulu halus. Gerakan percepatan ke arah manapun yang diterima tubuh manusia menyebabkan cairan mengalir dan bulu-bulu halus ini berbelok/bergerak, yang pada gilirannya merangsang impuls saraf, mengirimkan pesan ke otak. Saraf vestibular mengirimkan impuls dari utrikulus, saccule, dan saluran setengah lingkaran ke otak untuk menafsirkan gerak.

Somatosensory system mengirimkan sinyal-sinyal dari kulit, sendi, dan otot ke otak yang ditafsirkan dalam kaitannya dengan arah tarikan gravitasi bumi. Sinyal-sinyal menentukan posisi sikap (postur). Masukan dari setiap gerakan memperbarui data posisi tubuh ke otak secara konstan.

Sedangkan sistem penglihatan yaitu mata adalah sistem yang tidak perlu kita bahas karena semua orang normal menggunakan matanya.

Ketiga sistem tersebut biasanya setuju dengan informasi yang dihasilkan. Misalnya pada waktu berbaring terlentang, kita tahu bahwa permukaan tanah ada di belakang kita dan langit ada di depan kita atau pada waktu berdiri miring, kita tahu di sisi mana atas dan di sisi mana bawah.

Manusia dirancang untuk hidup di darat dengan orientasi ruang (spatial orientation) yang relatif hanya 2 dimensi (maju-mundur, kiri-kanan). Sedangkan pada waktu terbang, penerbang berada pada lingkungan 3 dimensi yang tidak biasa. Tubuh manusia biasanya bingung jika digerakkan secara 3 dimensi. Pada saat itu persepsi kita sangat bergantung pada informasi dari mata.

Coba anda menonton filem di bioskop Keong Mas di Taman Mini atau wahana pertunjukan sejenis di Dunia Fantasi, anda akan merasakan seolah-olah ikut berterbangan, menukik dan mendaki mengikuti gambar yang ada. Padahal dengan gambar di layar yang besar, yang terjadi adalah mata dipaksa untuk percaya dengan gambar yang kita lihat juga dengan cara mengganggu sensor/indera keseimbangan kita dengan menggerakkan kursi yang kita duduki.

Ilusi-ilusi Vestibular

Sebuah akselerasi cepat, seperti yang dialami selama tinggal landas, merangsang organ otolith dalam cara yang sama seperti memiringkan kepala ke belakang. Tindakan ini menciptakan ilusi somatogravic sehingga manusia merasa berada di sikap mendongak, terutama dalam situasi tanpa referensi visual yang baik. Penerbang yang bingung dapat mendorong hidung pesawat ke bawah (nose down) atau bahkan menukik/dive. Sebuah perlambatan cepat dengan cara mengurangi kecepatan dengan tiba-tiba dapat memiliki efek berlawanan, dengan hasil penerbang akan bingung dan menarik pesawat ke posisi mendongak atau stall attitude.

Leans

Jika pesawat dimiringkan ke satu arah dengan dengan perlahan dan konstan, lalu tiba-tiba dikembalikan ke posisi awal, maka orang akan merasa kebalikannya. Contohnya, dari posisi lurus pesawat dimiringkan ke kiri secara perlahan, lalu gerakkan sedikit ke kanan dengan cepat. Maka orang di pesawat yang tidak sadar pesawat dimiringkan ke kiri akan merasa pesawat tiba-tiba miring ke kanan. Jika penerbang tidak sadar keadaan ini maka penerbang akan dengan tidak sadar mencoba memperbaiki keadaan dengan menambah miring ke kiri yang malah memperburuk keadaan. Apalagi jika kemiringan ini diikuti dengan belokan (graveyard spin). Hal ini terjadi pada kecelakaan Adam Air 574.

Hal dalam contoh ini terjadi karena cairan di semicircular tube yang mengalir ke kiri terlalu perlahan, sehingga tidak diterjemahkan sebagai sebuah gerakan

>Dalam kehidupan sehari-hari, tubuh kita bergantung pada beberapa indera/sensor untuk mengetahui orientasi kita terhadap ruang. Misalnya kita berdiri tegak di sebuah ruangan, maka mata, telinga, hidung, kulit dan otot serta organ keseimbangan “vestibular” di dalam telinga kita memberi persepsi orientasi tubuh ke otak.<br />Biasanya organ visual/ mata adalah indera utama pada penerbang. Sedangkan indera dari organ <em>vestibular </em>(yang ada dalam telinga) dan <em>somatic</em> (kulit dan sendi) adalah indera kedua yang memberi informasi.</div>
<div align="justify"><br />Jadi ada 3 sistem utama yang menterjemahkan orientasi posisi dan arah tubuh kita:<br />
<ul>
<li><em>Vestibular system </em>— organ yang ada di dalam telinga yang mendeteksi keseimbangan.</li>
<li><em>Somatosensory system </em>— syaraf di kulit, otot dan sendi untuk merasakan posisi berdasarkan gravitasi, rasa dan suara.</li>
<li><em>Visual system</em> — mata.</li>
</ul>
</div>
<div align="justify">Sistem vestibular di telinga dalam memungkinkan penerbang untuk merasakan gerakan dan menentukan orientasi di lingkungan sekitarnya. Di dalam kedua telinga bagian dalam kiri dan kanan, tiga saluran setengah lingkaran (<em>semi circular canals)</em> berada pada sudut tegak lurus satu sama lain.</div>
<div align="justify"> 
<div style="text-align: center;"><img ondragstart="return false;" class="caption" title="Organ  Vestibular yang merasakan pitch, yaw dan roll" src="/images/stories/Teori/PPL/semicircular%20canal.jpg" alt="Organ Vestibular yang merasakan pitch, yaw dan roll" width="579" height="250" border="0" /></div>
</div>
<div align="justify">Setiap kanal berisi cairan dan memiliki bagian yang penuh dengan bulu-bulu halus. Gerakan percepatan ke arah manapun yang diterima tubuh manusia menyebabkan cairan mengalir dan bulu-bulu halus ini berbelok/bergerak, yang pada gilirannya merangsang impuls saraf, mengirimkan pesan ke otak. Saraf vestibular mengirimkan impuls dari utrikulus, saccule, dan saluran setengah lingkaran ke otak untuk menafsirkan gerak. <br /> </div>
<div> </div>
<div align="justify"><strong><em>Somatosensory system</em></strong> mengirimkan sinyal-sinyal dari kulit, sendi, dan otot ke otak yang ditafsirkan dalam kaitannya dengan arah tarikan gravitasi bumi. Sinyal-sinyal menentukan posisi sikap (postur). Masukan dari setiap gerakan memperbarui data posisi tubuh ke otak secara konstan. <br /><strong><img ondragstart="return false;" class="caption" title="Sensor Somatic (kulit dan  sendi)" src="/images/stories/Teori/PPL/ilusi%204.jpg" alt="Sensor Somatic (kulit dan sendi)" width="353" height="220" align="left" border="0" /></strong><br />Sedangkan sistem penglihatan yaitu mata adalah sistem yang tidak perlu kita bahas karena semua orang normal menggunakan matanya.<br /><br />Ketiga sistem tersebut biasanya “setuju” dengan informasi yang dihasilkan. Misalnya pada waktu berbaring terlentang, kita tahu bahwa permukaan tanah ada di belakang kita dan langit ada di depan kita atau pada waktu berdiri miring, kita tahu di sisi mana atas dan di sisi mana bawah.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Manusia dirancang untuk hidup di darat dengan orientasi ruang (spatial orientation) yang relatif hanya 2 dimensi (maju-mundur, kiri-kanan). Sedangkan pada waktu terbang, penerbang berada pada lingkungan 3 dimensi yang tidak biasa. Tubuh manusia biasanya bingung jika digerakkan secara 3 dimensi. Pada saat itu persepsi kita sangat bergantung pada informasi dari mata.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Coba anda menonton filem di bioskop Keong Mas di Taman Mini atau wahana pertunjukan sejenis di Dunia Fantasi, anda akan merasakan seolah-olah ikut “terbang”, “menukik” dan “mendaki” mengikuti gambar yang ada. Padahal dengan gambar di layar yang besar, yang terjadi adalah mata “dipaksa” untuk percaya dengan gambar yang kita lihat juga dengan cara “mengganggu”sensor/indera keseimbangan kita dengan menggerakkan kursi yang kita duduki.</div>
<div align="justify"> </div>
<div>Mata yang melihat layar yang lebar memberi informasi pada otak tentang sebuah orientasi ruang (Spatial Orientation) yang berbeda dengan sebenarnya sehingga terjadi Spatial Disorientation (Disorientasi ruang).<br />Sekarang masalahnya pada waktu terbang pada malam hari atau pada keadaan IFR, informasi dari mata sangat terbatas. Sehingga apa yang kita rasakan di organ keseimbangan (somatic dan vestibular) akan memberi informasi orientasi tubuh pada otak dan berpotensi memberi ilusi.<br /><img ondragstart="return false;" src="/images/stories/Teori/PPL/ilusi%207.jpg" alt="" width="594" height="275" border="0" />
<h2> </h2>
<p> </p>
<p align="center"><strong>Ilusi-ilusi Vestibular</strong></p>
</div>
<div align="justify"><strong>Ilusi Somatogravic <br /></strong></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><img ondragstart="return false;" src="/images/stories/Teori/PPL/ilusi%205.jpg" alt="" align="left" border="0" />Sebuah akselerasi cepat, seperti yang dialami selama tinggal landas, merangsang organ <em>otolith</em> dalam cara yang sama seperti memiringkan kepala ke belakang. Tindakan ini menciptakan ilusi somatogravic sehingga manusia merasa berada di sikap mendongak, terutama dalam situasi tanpa referensi visual yang baik. Penerbang yang bingung dapat mendorong hidung pesawat ke bawah (<em>nose down</em>) atau bahkan menukik/dive. Sebuah perlambatan cepat dengan cara mengurangi kecepatan dengan tiba-tiba dapat memiliki efek berlawanan, dengan hasil penerbang akan bingung dan menarik pesawat ke posisi mendongak atau <em>stall attitude</em>. <br /><br /><strong>Leans</strong></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Jika pesawat dimiringkan ke satu arah dengan dengan perlahan dan konstan, lalu tiba-tiba dikembalikan ke posisi awal, maka orang akan merasa kebalikannya. Contohnya, dari posisi lurus pesawat dimiringkan ke kiri secara perlahan, lalu gerakkan sedikit ke kanan dengan cepat. Maka orang di pesawat yang tidak sadar pesawat dimiringkan ke kiri akan “merasa” pesawat tiba-tiba “miring” ke kanan. Jika penerbang tidak sadar keadaan ini maka penerbang akan dengan tidak sadar mencoba “memperbaiki” keadaan dengan menambah miring ke kiri yang malah memperburuk keadaan. Apalagi jika kemiringan ini diikuti dengan belokan (graveyard spin). Hal ini terjadi pada kecelakaan Adam Air 574.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Hal dalam contoh ini terjadi karena cairan di semicircular tube yang mengalir ke kiri terlalu perlahan, sehingga tidak diterjemahkan sebagai sebuah gerakan.
<div style="text-align: center;"><img ondragstart="return false;" class="caption" title="Aliran cairan dalam tabung (tube) untuk merasakan gerak" src="/images/stories/Teori/PPL/ilusi%209.jpg" alt="Aliran cairan dalam tabung (tube) untuk merasakan gerak" width="562" height="172" border="0" /></div>
<br /><br /><img ondragstart="return false;" src="/images/stories/Teori/PPL/ilusi%201.jpg" alt="" align="left" border="0" /><strong>Ilusi Coriolis <br /></strong></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Menggerakkan kepala secara tiba-tiba, terutama pada saat pesawat berbelok akan membingungkan mekanisme keseimbangan dalam telinga. Hal ini menyebabkan penerbang mengira pesawat bergerak secara tidak diinginkan dan akan “mengembalikan” posisi pesawat. Untuk menghindari ilusi ini, hindari untuk menggerakkan kepala secara tiba-tiba misalnya pada waktu mengambil sesuatu di belakang kita (tas, chart dll) atau mengambil sesuatu yang jatuh ke lantai kokpit.<br /><br /><strong>Graveyard spin<br /></strong></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Graveyard Spin adalah ilusi yang dapat terjadi pada penerbang yang sengaja atau tidak sengaja masuk spin. Sebagai contoh, seorang penerbang yang memasuki putaran ke kiri awalnya akan memiliki sensasi berputar ke arah yang sama. Namun, jika terus berputar dalam spin ini, maka penerbang akan merasa putarannya berkurang.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Pada titik ini, jika penerbang memberikan rudder ke kanan untuk menghentikan spin ke kiri, penerbang tiba-tiba akan merasakan putaran ke arah yang berlawanan (ke kanan).</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Jika penerbang yakin bahwa pesawat itu berputar ke kanan, maka responnya akan memberikan rudder  kiri untuk melawan sensasi putaran ke kanan. Namun, dengan menggunakan rudder kiri ini penerbang akan tidak sadar lalu masuk kembali ke spin kiri yang sebelumnya terjadi.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Jika penerbang memeriksa turn indicator, dia akan melihat penunjuknya menunjukkan berbelok ke kiri sementara perasaannya berbelok ke kanan. Ini menciptakan konflik sensorik antara yang dilihat oleh penerbang pada instrumen dan yang dia rasakan pada tubuhnya. Jika penerbang berkeyakinan sensasi tubuh bukan mempercayai instrumen, spin ke kiri akan berlanjut. Jika terlalu banyak ketinggian yang hilang sebelum ilusi ini disadari dan penerbang mengambil tindakan korektif, maka benturan dengan daratan tidak akan bisa dihindari.<br /> </div>
<div align="justify"><img ondragstart="return false;" src="/images/stories/Teori/PPL/ilusi%208.jpg" alt="" width="435" height="336" align="left" border="0" /><strong>Spiral graveyard</strong></div>
<div align="justify">Spiral graveyard lebih umum terjadi daripada Spin graveyard. Spiral graveyard terjadi karena pesawat yang berbelok miring dengan waktu yang lama baik sengaja ataupun tidak sengaja.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Sebagai contoh, seorang penerbang yang miring berbelok ke kiri awalnya akan memiliki sensasi berbelok ke arah yang sama. Jika berbelok ke kiri terus (~ 20 detik atau lebih), penerbang akan mengalami sensasi bahwa pesawat tidak lagi miring (<em>bank</em>) ke kiri. Pada titik ini, jika penerbang meluruskan sayap pesawatnya (<em>level flight</em>) maka tindakan ini akan menghasilkan sensasi bahwa pesawat berbelok dan miring (<em>turn and bank</em>) dalam arah yang berlawanan (ke kanan). Jika penerbang percaya ilusi berbelok ke kanan (yang bisa jadi sangat dia percayai), dia akan masuk kembali berbelok ke kiri dalam upaya untuk melawan sensasi berbelok ke kanan. Sayangnya, saat ini terjadi, pesawat sesungguhnya masih membelok ke kiri dan kehilangan ketinggian. Menarik tongkat kemudi dan menambah tenaga pesawat bukanlah ide bagus-karena hanya akan membuat pesawat makin berbelok ke kiri. Jika penerbang gagal untuk mengenali ilusi dan tidak me-<em>level</em>-kan sayap, pesawat akan terus kehilangan ketinggian, berbelok ke kiri dan memutar sampai menyentuh tanah. <br /><br /><strong>Pencegahan ilusi-ilusi:<br /></strong></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Untuk mengurangi kemungkinan ilusi terjadi:</div>
<div align="justify">
<ul>
<li>Siapkan diri Anda sebelum penerbangan: Apakah penerbangan ini rawan ilusi? Misalnya terbang malam, IFR flight dll. Apa yang harus saya lakukan jika ada masalah? Apakah saya cukup sehat untuk terbang hari ini? Apakah saya cukup istirahat?</li>
<li>Minimalkan gerakan kepala pada saat terbang.  Selama anda melakukan instrument scanning dan melihat keluar, kurangi gerakan kepala apalagi secara tiba-tiba. Jika bisa, usahakan hanya mata yang bergerak, bukan kepala. Jangan banyak menggerakkan kepala pada waktu berbelok.  <strong>Berbelok dan bermanuver dengan halus dan dengan waktu singkat</strong>. </li>
<li>Gunakan visual horizon jika terlihat dan layak dilihat. </li>
<li>Gunakan instrument pesawat dan yakin dengan penunjukannya. Apalagi jika horizon tidak terlihat dan juga pada waktu anda tahu bahwa anda sedang merasakan ilusi atau disorientasi.</li>
</ul>
</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><strong>Jika anda terperangkap dalam ilusi <br /></strong></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Kapan pun, jika Anda mengalami sensasi membingungkan dalam penerbangan, scan SEMUA instrumen yang relevan sebelum menggerakkan kendali pesawat (dan harus percaya dengan bacaan instrument!) .</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Mulailah dengan Attitude Indicator (AI). AI memberikan gambaran utama dari apa yang pesawat anda lakukan. Lihat di mana hidung, dan di mana sayap dalam kaitannya dengan cakrawala/horizon.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Lihat kecepatan (airspeed), kecepatan vertikal (vertical speed), dan ketinggian (altitude). Jika mereka menunjukkan kontrol yang tidak benar, ikuti langkah berikut:</div>
<div align="justify">
<ul>
<li>Lurus dan ratakan sayap (wing level )</li>
<li>Jika pesawat naik atau turun dengan cepat, pastikan anda tidak berada di <em>critical speed</em>. (V<sub>stall</sub>, V<sub>max</sub>, V<sub>mo</sub>, M<sub>mo</sub>)</li>
<li>Atur tenaga mesin untuk menyelaraskan kecepatan (airspeed) baru kemudian tarik atau dorong kendali pesawat untuk mengatur vertical speed.</li>
<li>V/S = Nol artinya pesawat tidak naik atau turun (terdengar aneh, sesuatu yang mudah yang tidak perlu diingat, tapi dalam keadaan kritis, melihat V/S indicator mungkin dapat menyelamatkan anda!)</li>
</ul>
<strong><img ondragstart="return false;" class="caption" title="Percaya pada instrument dapat menyelamatkan kita" src="/images/stories/Teori/PPL/instrument.jpg" alt="Percaya pada instrument dapat menyelamatkan kita" border="0" /></strong></div>	</div>

	
					</div>


										</div>
												</div>
				        				</div></div> <!-- end centercol -->
	        					</div></div></div></div></div></div> <!-- end jsn-maincontent -->
									<div id="jsn-rightsidecontent" class="span3 order2 ">
							<div id="jsn-rightsidecontent_inner">
								<div id="jsn-pos-right">
									<div class="-box box-blue jsn-modulecontainer"><div class="jsn-modulecontainer_inner"><div><div><h3 class="jsn-moduletitle"><span class="jsn-moduleicon">Artikel terkait</span></h3><div class="jsn-modulecontent"><ul class="relateditems-box box-blue">
<li>
	<a ondragstart="return false;" href="/artikel-mainmenu-29/peraturan-penerbangan-mainmenu-81/28-casr1/310-vfr-minimum-safe-altitude">
				VFR minimum safe altitude</a>
</li>
<li>
	<a ondragstart="return false;" href="/blog-mainmenu-9-60730/blogberita-pilot/409-9-menit-terpanjang-dalam-hidup-saya">
				9 Menit terpanjang dalam hidup saya</a>
</li>
<li>
	<a ondragstart="return false;" href="/blog-mainmenu-9-60730/blogberita-pilot/98-menaikkan-flap-diwaktu-yang-salah">
				Belajar dari kesalahan: Menaikkan flap di waktu yang salah</a>
</li>
<li>
	<a ondragstart="return false;" href="/artikel-mainmenu-29/teori-penerbangan-mainmenu-68/374-terbang-malam-bagian-1-penglihatan-manusia">
				Terbang malam bagian 1: Penglihatan Manusia</a>
</li>
<li>
	<a ondragstart="return false;" href="/artikel-mainmenu-29/teori-penerbangan-mainmenu-68/377-terbang-malam-bagian-2a-ilusi">
				 Terbang malam bagian 2a: Ilusi</a>
</li>
<li>
	<a ondragstart="return false;" href="/artikel-mainmenu-29/teori-penerbangan-mainmenu-68/401-terbang-malam-bagian-3-persiapan-terbang-malam">
				Terbang malam bagian 3: Persiapan terbang malam</a>
</li>