Tauhid


A.Pengertian Rubûbiyyah Dan Ulûhiyyah Serta Ayat-ayat Yang Berkenaan Dengannya

Rubûbiyyah adalah bahasa Arab yang kata dasarnya terdiri atas huru-huruf “râ-bâ” yang mempunyai beberapa arti dasar sebagai berikut: “Ishlâhu al-Syay’i wa al-Qiyâmu ‘alayh” (memperbaiki sesuatu dan menjaganya). Di sini kata “al-Rabb” berarti al-Mâlik” (pemilik), “al-khâliq” (pencipta), dan “ash-Shâhib “(yang empunya).

Kata “al-Rabb” diartikan dengan memperbaiki sesuatu, seperti dalam kata: “rabba fulânun dhay’atah” (si Anu memperbaiki  pekarangannya). Kalimat ini diungkapkan apabila orang tersebut menjaga perbaikan pekarangannya.

Kata “al-Rabb” digunakan untuk Allah Swt., karena dia memperhatikan kebaikan hal ihwal makhluk-Nya. Sedangkan kata “ribbiy” berarti orang yang mengenal “al-Rabb”. Kata “al-rabỉb” berarti anak tiri laki-laki atau “al-rabỉbah” berarti anak tiri perempuan. Kata “al-rabb” berarti orang yang mengurusi anak tiri.

Selanjutnyan, “luzûm al-syay’i wa al-Iqamah ‘alayh” (melazimi sesuatu dan mengawasinya). Pengertian ini masih sesuai dengan arti dasar yang pertama, yaitu untuk menjaga kebaikan dan perbaikan sesuatu, harus diadakan pengawasan dan konsisten. Orang dapat mengatakan kalimat berikut: “Arabbat al-Sahâbah bi hadzih al-Baldah” (awan selalu melindungi negeri ini). Kalimat ini diungkapkan apabila awan itu selalu ada. Termasuk dalam arti yang kedua ini, ungkapan: “al-Syâh al-Rubbâ” (kambing yang dikurung di rumah untuk diambil air susunya, apabila kambing itu menetap di rumah). Frasa ini dapat pula berarti kambing yang baru melahirkan yang memelihara anaknya.

Selanjutnya lagi, “Dhamm al-Syay’i li al-Syay’i” (menghimpunkan sesuatu kepada sesuatu yang lain). Termasuk dalam arti dasar yang ketiga ini, kata: “al-Rababu” yang secara leksikal berarti: air yang banyak karena terhimpun atau merupakan himpunan air.

Menurut al-Râgib al-Ishfahâniy, asal kata “al-Rabb” ini adalah “tarbiyah” yang berarti mengembangkan sesuatu, setahap demi setahap sampai sempurna. Kata “al-Rabb” ini merupakan bentuk mashdar yang dipinjam untuk ism fâ’il. Apabila digunakan secara mutlak (tanpa dikaikan dengan sesuatu), maka hanya boleh untuk Allah Swt yang memenuhi kemaslahatan segala sesuatu yang ada ini.

Mengenai kata “rubûbiyyah” adalah kata yang dinisbahkan kepada al-Rabb secara mutlak, dan tanpa imbalan apa pun. Oleh karena itu, sebenarnya tanpa dihubungkan dengan kata apapun, kata tersebut sudah menunjukkan rubûbiyyah Allah.

Adapun yang dimaksud dengan rubûbiyyah Allah adalah penyandaran penciptaan makhluk hanya kepada Allah Swt, begitu juga dengan pengambilan hukum-hukum agama dan ibadah, halal dan haram dan sebagainya berdasarkan wahyu-Nya semata.

Berikut ini akan dibahas pula pengertin ulûhiyyah Allah. Kata ulûhiyyah adalah bahasa Arab yang kata dasarnya terdiri atas huruf-huruf “hamzah-lâm-hâ” yang hanya mempunyai satu arti dasar, yaitu: at-ta’abbud, yang diterjemahkan beribadah. Allah dinamakan ilâh, karena Dia disembah atau diibadahi.

Yang dimaksud ulûhiyyah Allah adalah mengesakannya dalam bentuk ibadah dan berdoa hanya kepada-Nya. [1]

Abu Bakar Jabir Al-jazairy dalam kitabnya ‘Aqidah Al-Mu’min menyebutkan bahwa makna rububiyah  Allah  adalah menafikan sekutu dari Allah Swt dalam sifat rububiyah-Nya, seperti menciptakan, pemberi rezeki, menguasai, mengatur dan yang melaziminya seperti menghidupkan, mematikan, memberi, tidak memberi, mendatangkan mudharat, mendatangkan manfaat, menghinakan dan memuliakan.

Adapun uluhiyah Allah Swt menunggalkan dengan pelaksanaan ibadah khusus untuk Allah semata, yang melazimkan melaksanakan terhadap apa yang Allah perintahkan, baik itu ibadah hati atau ibadah anggota zahir, disertai tidak ada penyekutuan dalam ibadah yang dilakukan itu.[2]

Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah merupakan konsekuensi dari tauhid rububiyah. Hakikat tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Menujukan segala bentuk ibadah hanya kepada-Nya, dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Ibadah itu sendiri harus dibangun di atas landasan cinta dan pengagungan kepada-Nya.

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz menjelaskan, bahwa kata uluhiyah berasal dari alaha – ya’lahu – ilahah – uluhah yang bermakna ‘menyembah dengan disertai rasa cinta dan pengagungan’. Sehingga kata ta’alluh diartikan penyembahan yang disertai dengan kecintaan dan pengagungan. (Lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 6 dan 74-76, lihat juga al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an [1/26] karya Imam ar-Raghib al-Ashfahani.)

Tauhid uluhiyah merupakan intisari ajaran Islam. Tauhid uluhiyah inilah yang menjadi intisari dakwah para nabi dan rasul dan muatan pokok seluruh kitab suci yang diturunkan Allah ke muka bumi. Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang berseru: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut/sesembahan selain Allah.” (QS. an-Nahl: 36).

Di ayat lain Allah ta’ala berfirman

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Kami mengutus kepada seorang rasul pun sebelum kami -Muhammad- melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- kecuali Aku, oleh sebab itu sembahlah Aku saja.” (QS. al-Anbiyaa’: 25)

Kamilah al-Kiwari hafizhahallahu berkata, “Makna tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah ta’ala dalam beribadah, dalam ketundukan dan ketaatan secara mutlak. Oleh sebab itu tidak diibadahi kecuali Allah semata dan tidak boleh dipersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun baik yang ada di bumi ataupun di langit. Tauhid tidak akan benar-benar terwujud selama tauhid uluhiyah belum menyertai tauhid rububiyah. Karena sesungguhnya hal ini -tauhid rububiyah,- tidaklah mencukupi. Orang-orang musyrik arab dahulu pun telah mengakui hal ini, tetapi ternyata hal itu belum memasukkan mereka ke dalam Islam. Hal itu dikarenakan mereka mempersekutukan Allah dengan sesembahan lain yang tentu saja Allah tidak menurunkan keterangan atasnya sama sekali dan mereka pun mengangkat sesembahan-sesembahan lain bersama Allah…” (Lihat al-Mujalla fi Syarh al-Qowa’id al-Mutsla, hal. 32)

Tauhid uluhiyah bisa didefinisikan sebagai: mengesakan Allah dengan perbuatan hamba. Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah berkata, “Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba, seperti dalam hal doa, istighotsah/memohon keselamatan, isti’adzah/meminta perlindungan, menyembelih, bernadzar, dan lain sebagainya. Itu semuanya wajib ditujukan oleh hamba kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dalam hal itu/ibadah dengan sesuatu apapun.”(Lihat Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 56)

Dari sini pula, dapat dipahami bahwa makna yang benar dari kalimat laa ilaha illallah adalah tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah (laa ma’buda haqqun illallah).

Allah ta’ala berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Yang demikian itu, karena Allah adalah al-Haq/sesembahan yang benar, adapun segala yang mereka seru/sembah selain-Nya adalah batil.” (QS. al-Hajj: 62).  (Lihat al-Qaul al-Mufid fi Adillat at-Tauhid, hal. 25 karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Wushobi)

Allah ta’ala berfirman,

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

“Dan ilah (sesembahan) kalian adalah ilah yang satu saja. Tidak ada ilah yang benar selain Dia. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah: 163).

Oleh sebab itu orang-orang musyrik ketika mendengar dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kalimat laa ilaha illallah maka mereka pun mengatakan,

أَجَعَلَ الآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Apakah dia -Muhammad- akan menjadikan ilah-ilah itu menjadi satu ilah saja. Sungguh, ini adalah perkara yang sangat mengherankan.” (QS. Shaad: 5).

Allah ta’ala juga berfirman,

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

“Sesungguhnya mereka itu apabila dikatakan kepada mereka laa ilaha illallah, maka mereka menyombongkan diri. Mereka mengatakan, “Apakah kami harus meninggalkan ilah-ilah/sesembahan-sesembahan kami gara-gara ucapan seorang penyair gila?”(QS. ash-Shaffat: 35-36)

Apabila hal ini telah jelas, maka tentu saja dengan mudah kita bisa mengetahui bahwa penafsiran laa ilaha illallah dengan ungkapan ‘Tiada pencipta selain Allah‘, atau ‘Tiada penguasa selain Allah’, atau ‘Tiada pengatur selain Allah’, dan semacamnya adalah sebuah kesalahpahaman. (Lihat at-Tauhid li Shaff al-Awwal al-’Aali, hal. 45 karya Syaikh Shalih al-Fauzan)

Kesalahpahaman ini muncul dari kalangan Asya’irah dan Mu’tazilah yang mengartikan kata ilah dalam syahadat laa ilaha illallah dengan makna al-Qadir; artinya yang berkuasa. Sehingga mereka menafsirkan laa ilaha illallah dengan tiada yang berkuasa untuk mencipta kecuali Allah. Oleh sebab itu di dalam kitab pegangan mereka semisal Ummul Barahin, dijelaskan bahwa makna ilah adalah Dzat yang tidak membutuhkan selain diri-Nya sedangkan segala sesuatu selain-Nya membutuhkan-Nya. Ini artinya mereka telah menyimpangkan makna tauhid uluhiyah kepada tauhid rububiyah. Hal ini pula yang menimbulkan munculnya pemaknaan laa ilaha illallah dengan ‘tiada tuhan selain Allah’, karena istilah tuhan di sini dimaknakan dengan Rabb/pencipta, pengatur dan pemelihara alama semesta. Padahal, yang benar maknanya adalah tiada sesembahan yang benar selain Allah. (Lihat at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 75-76).[3]

Beberapa ayat Al-Qur’an menjelaskan Rububiyah dan Uluhiyah ini secara spesifik, di antaranya:

Surah al-‘Alaq (96/1:1-5) yang tergolong Makkiyyah:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ  خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ  اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ  الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ  عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَم

”Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama tuhanmu yang pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dan mengajarkan kepada manusia apa yang ia tidak ketahui.”

Dalam buku Tafsir al-Azhar oleh prof Dr. Hamka, beliau menyebutkan dalam suku pertama saja, yaitu “bacalah”, telah terbukti kepentingan pertama di dalam perkembangan agama ini selanjutnya. Nabi Saw disuruh membaca wahyu yang akan diturunkan kepada beliau itu di atas nama Allah, Tuhan yang telah menciptakan.[4]

Kata Rabb apabila berdiri sendiri maka yang dimaksud adalah “Tuhan” yang tentunya antara lain karena Dialah yang melakukan tarbiyah (pendidikan) yang pada hakikatnya adalah pengembangan, peningkatan serta perbaikan makhluk ciptaan-Nya.

Agaknya penggunaan kata Rabb dalam ayat ini dan ayat-ayat yang lainnya dimaksudkan untuk menjadi dasar perintah mengikhlaskan diri kepada-Nya, sambil menunjukkan kewajaran-Nya untuk disembah dan ditaati.

Dalam wahyu-wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw tidak ditemukan nama Allah, tetapi kata yang digunakan adalah yang menunjukkan Tuhan adalah Rabbuka, Tuhanmu wahai Nabi Muhammad, yakni bukan Tuhan yang dipercayai kaum musyrikin. Perhatikan lima ayat pertama surah ini, demikian juga wahyu berikutnya, surah al-Muddatstsir, al-Qalam, awal surah al-Muzzammil dan surah Tabbat. Surah-surah sesudahnya sampai dengan surah Sabbihis kesemuannya tanpa menggunakan nama Allah, kecuali bila ayat itu turun terpisah dengan ayat-ayat lainnya[5]

Kata Rabbika pada ayat pertama ini berkaitan langsung dengan penciptaan manusia yang diungkapka pada ayat kedua. Penciptaan dimaksud mengalami proses, dari sesuatu yang bergantung di rahim (‘alaq) sampai jadi manusia yang sempurna. Kata Rabbika  pada ayat ketiga berkaitan dengan kemurahan Allah dalam memberikan sesuatu yang diperlukan oleh manusia, berupa ilmu pengetahuan yang diberikan secara bertahap. Kata ‘allama bermakna pemberian pengetahuan itu secara bertahap-tahap.

Ayat-ayat ini memberikan gambaran bahwa Allah itu adalah Pencipta, Pemurah, dan Pendidik. Walaupun demikian, pada wahyu-wahyu yang pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw. kata yang menunjukkan Tuhan yang maha Esa adalah Rabbika, bukan Allah. Paling tidak, sampai pada wahyu yang keenam yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw. sebelum menggunakan kata Allah, bahkan kalau diberikan penjelasan lebih jauh, maka pada wahyu yang ke sembilan belas, yaitu surah al-Ikhlash, baru kata Allah itu ditemukan. Ayat itu diturunkan justru untuk menjawab pertanyaan kaum musyrikin tentang Tuhan yang disembah oleh Muhammad Saw.

Jika diajukan pertanyaan: mengapa dalam wahyu-wahyu pertama tidak menggunakan kata Allah untuk menunjukkan Tuhan yang Maha Esa? Dalam hal ini, kaum musyrikin percaya kepada Allah, tetapi kepercayaan mereka itu jauh berbeda dengan apa yang dihayati dan diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. misalnya mereka beranggapan ada hubungan antara Allah dan Jin (Q.S. al-shaffat: 158),

وَجَعَلُوا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَباً وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ

“Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin. Dan sesungguhnya jin-jin yang jahat mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka.”

Allah mempunyai anak-anak wanita (Q.S. al-isra:40),

أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُمْ بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلائِكَةِ إِنَاثًا إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلا عَظِيمًا

“Maka apakah patut Rabb memilihkan bagimu anak-anak laki-laki, sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat, sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).”

Dan Allah yang maha suci itu tidak dapat mereka hubungi, karenanya mereka menggunakan perantara. (Q.S al-Zumar:3).

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah, agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah, (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah, dengan sedekat-dekatnya’. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka, tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki, orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”

Kalau al-Qur’an menggunakan Allah, tentunya mereka kaum musyrikin menanggapinya sebagaimana yang merreka percayai selam ini, padahal yang dimaksud adalah Allah yang sesuai dengan keyakinan Nabi Muhammad Saw. oleh karena itulah, penggunaan kata dasar Rabb pada periode Mekkah (Makkiyah) jauh lebih banyak dari pada yang  digunaka pada periode Madinah (Madaniyah).[6]

Surah al-Baqarah (2/87:21-22) yang tergolong madaniyah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ

أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian, karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.”

 Terhadap siapakah ibadah atau pengabdian harus ditujukan? Ayat ini menjelaskan bahwa ibadah tersebut ditujukan kepada Rabb yang menciptakan seluruh manusia  dan siapapun yang diberi potensi akal sebelum wujudnya seluruh manusia yang mendengar panggilan ayat ini. Karena, pencipta itu adalah Rabb.

Rabb adalah pendidik dan pemelihara. Banyak sekali aspek dari rububiyah Allah Swt. Yang menyentuh makhluk-Nya, seperti pemberian rezeki, kasih sayang, pengampunan, dan lain-lain. Angakatlah salah satu nikmat  yang anda rasakan atau anda sadari sedang dimiliki orang lain, dan tanyakanlah pada diri anda, siapa yang menganugrahkan nikmat itu? Jawabannya adalah Dia sang pemelihara dan pendidik itu. Bahkan amarah, ancaman dan siksa-Nya tidak keluar dari makna yang dikandung oleh kata Rabb.bukanlah orang tua yang memukul anaknya adalah dalam rangka memelihara dan mendidiknya? Kata Rabb pada ayat ini adalah bukti kewajaran Sang Pencipta bahwa hanya kepada-Nya segala macam ketaatan dan kepatuhan ditujukan.[7]

PENUTUP

Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dilakukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, serta bahwasanya Dia adalah Raja, Penguasa, dan Yang mengatur segala sesuatu.

Banyak ayat yang menjelaskan tentang hal ini sebagaimana telah disinggung di atas, ayat lain yang berkenaan misalnya: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” [Al-A’raaf: 54]

Adapun tauhid uluhiyah adalah adalah mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allah, seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah.[8]

DAFTAR PUSTAKA

 Al-Jazairy. Abu Bakar Jabir, Aqidah Al-Mu’min (Madinah Al-Munawwarah: Maktabah Al-ulum wa Al-Hikam)

Hamka, Tafsir al-Azhar (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982)

Karim. Abdullah, Tafsir Ayat-Ayat Akidah (Banjarmasin: IAIN Banjarmasin press, 2013)

Shihab. Quraish, Tafsir Al-Mishbah (Jakarta: Lentera Hati, 2003)

“Tauhid Uluhiyah” dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Tauhid_Uluhiyah diakses pada 21 April 2016.

“Tauhid Uluhiyah” dalam https://muslim.or.id/10320-tauhid-uluhiyah.html diakses pada 21 April 2016.

[1] Abdullah Karim, Tafsir Ayat-Ayat Akidah (Banjarmasin: IAIN Banjarmasin press, 2013), 112-115.

[2] Abu Bakar Jabir Al-Jazairy, Aqidah Al-Mu’min (Madinah Al-Munawwarah: Maktabah Al-ulum wa Al-Hikam), 89 dan 102.

[3] “Tauhid Uluhiyah” dalam https://muslim.or.id/10320-tauhid-uluhiyah.html diakses pada 21 April 2016.

[4] Hamka, Tafsir al-Azhar (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), 215.

[5] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah (Jakarta: Lentera Hati, 2003), 395.

[6] Abdullah Karim, Tafsir Ayat-Ayat Akidah…, 117-118.

[7] Quraish Shihab Tafsir Al-Mishbah…, 147.

[8] “Tauhid Uluhiyah” dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Tauhid_Uluhiyah diakses pada 21 April 2016.

Tauhid secara bahasa merupakan mashdar (kata benda dari kata kerja, ed) dari kata wahhada. Jika dikatakan wahhada syai’a artinya menjadikan sesuatu itu satu. Sedangkan menurut syariat berarti mengesakan Allah dalam sesuatu yang merupakan kekhususan bagi-Nya berupa rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat ( Al-Qaulul Mufiiid Syarh Kitabi At-Tauhid  I/7).

Kata tauhid sendiri merupakan kata yang terdapat dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu,Engkau akan mendatangi kaum ahli kitab, maka jadikanlah materi dakwah yang kamu sampaikan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah”. Demikan juga dalam perkataan sahabat Nabi, “Rasulullah bertahlil dengan tauhid”. Dalam ucapan beliau labbaika Allahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, ucapan talbiyah yang diucapkan ketika memulai ibadah haji. Dengan demikian kata tauhid adalah kata syar’i dan terdapat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah li Syaikh Shalih Alu Syaikh 63).

Pembagian Tauhid dalam Al Qur’an   

Pembagian yang populer di kalangan ulama adalah pembagian tauhid menjadi tiga yaitu tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Pembagian ini terkumpul dalam firman Allah dalam Al Qur’an:

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً

“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Maryam: 65).

Perhatikan ayat di atas:

(1). Dalam firman-Nya (رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) (Rabb (yang menguasai) langit dan bumi) merupakan penetapan tauhid rububiyah.

(2). Dalam firman-Nya (فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ) (maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya) merupakan penetapan tauhid uluhiyah.

(3). Dan dalam firman-Nya (هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً) (Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia?) merupakan penetapan tauhid asma’ wa shifat.

Berikut penjelasan ringkas tentang tiga jenis tauhid tersebut:

  1. Tauhid rububiyah. Maknanya adalah mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kepemilikan, dan pengurusan. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah:

    أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

    “Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah” (Al- A’raf: 54).

  2. Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Disebut tauhid uluhiyah karena penisbatanya kepada Allah dan disebut tauhid ibadah karena penisbatannya kepada makhluk (hamba). Adapun maksudnya ialah pengesaan Allah dalam ibadah, yakni bahwasanya hanya Allah satu-satunya yang berhak diibadahi. Allah Ta’ala berfirman:

    ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ

    ”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya yang mereka seru selain Allah adalah batil” (Luqman: 30).

  3. Tauhid asma’ wa shifat. Maksudnya adalah pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan nama-nama dan sifat-sifat yang menjadi milik-Nya. Tauhid ini mencakup dua hal yaitu penetapan dan penafian. Artinya kita harus menetapkan seluruh nama dan sifat bagi Allah sebgaimana yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau sunnah nabi-Nya, dan tidak menjadikan sesuatu yang semisal dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Dalam menetapkan sifat bagi Allah tidak boleh melakukan ta’thil, tahrif, tamtsil, maupun takyif. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

    لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

    ”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syuura: 11) (Lihat Al-Qaulul Mufiiid  I/7-10).

Sebagian ulama membagi tauhid menjadi dua saja yaitu tauhid dalam ma’rifat wal itsbat (pengenalan dan penetapan) dan tauhid fii thalab wal qasd (tauhid dalam tujuan ibadah). Jika dengan pembagian seperti ini maka tauhid rububiyah dan tauhid asma’ wa shifat termasuk golongan yang pertama sedangkan tauhid uluhiyah adalah golongan yang kedua (Lihat Fathul Majid 18).

Pembagian tauhid dengan pembagian seperti di atas merupakan hasil penelitian para ulama terhadap seluruh dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga pembagian tersebut bukan termasuk bid’ah karena memiliki landasan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Kaitan Antara Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah

Antara tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Tauhid rububiyah mengkonsekuensikan tauhid uluhiyah. Maksudnya pengakuan seseorang terhadap tauhid rububiyah mengharuskan pengakuannya terhadap tauhid uluhiyah. Barangsiapa yang telah mengetahui bahwa Allah adalah Tuhannya yang menciptakannya dan mengatur segala urusannya, maka dia harus beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Sedangkan tauhid uluhiyah terkandung di dalamnya tauhid rububiyah. Maksudnya, tauhid rububiyah termasuk bagian dari tauhid uluhiyah. Barangsiapa yang beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya, pasti dia meyakini bahwa Allahlah Tuhannya dan penciptanya. Hal ini sebagaimana perkatan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam:

قَالَ أَفَرَءَيْتُم مَّاكُنتُمْ تَعْبُدُونَ {75} أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُمُ اْلأَقْدَمُونَ {76} فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلاَّرَبَّ الْعَالَمِينَ {77} الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ {78} وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ {79} وَإِذَامَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ {80} وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ {81} وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ {82}

“Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah (75), kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? (76), karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam (77), (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang memberi petunjuk kepadaku (78), dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku (79), dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku (80), dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) (81), dan Yang amat aku inginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat (82)” (Asy- Syu’araa’: 75-82).

Tauhid rububiyah dan uluhiyah terkadang disebutkan bersamaan, maka ketika itu maknanya berbeda, karena pada asalnya ketika ada dua kalimat yang disebutkan secara bersamaan dengan kata sambung menunjukkan dua hal yang berbeda. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ {1} مَلِكِ النَّاسِ {2} إِلَهِ النَّاسِ {3}

“Katakanlah;” Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia (1). Raja manusia (2). Sesembahan manusia (3)” (An-Naas: 1-3).

Makna Rabb dalam ayat ini adalah raja yang mengatur manusia, sedangkan makna Ilaah adalah sesembahan satu-satunya yang berhak untuk disembah.

Terkadang tauhid uluhiyah atau rububiyah disebut sendiri tanpa bergandengan. Maka ketika disebutkan salah satunya mencakup makna keduanya. Contohnya pada ucapan malaikat maut kepada mayit di kubur: “Siapa Rabbmu?”, yang maknanya adalah: “Siapakah penciptamu dan sesembahanmu?” Hal ini juga sebagaimanan firman Allah:

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلآَّ أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللهُ

“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: ”Tuhan (Rabb) kami hanyalah Allah” (Al-Hajj: 40).

قُلْ أَغَيْرَ اللهِ أَبْغِي رَبًّا

“Katakanlah:”Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah” (Al-An’am: 164).

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah” (Fushshilat: 30). Penyebutan rububiyah dalam ayat-ayat di atas mengandung makna uluhiyah  ( Lihat Al Irsyad ilaa Shahihil I’tiqad 27-28).

Isi Al-Qur’an Semuanya Tentang Tauhid

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa isi Al-Qur’an semuanya adalah tentang tauhid. Maksudnya karena isi Al-Qur’an menjelaskan hal-hal berikut:

  1. Berita tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya, dan perkataan-Nya. Ini adalah termasuk tauhidul ‘ilmi al khabari (termasuk di dalamnya tauhid rububiyah dan asma’ wa shifat).
  2. Seruan untuk untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya. Ini adalah tauhidul iraadi at thalabi (tauhid uluhiyah).
  3. Berisi perintah dan larangan serta keharusan untuk taat dan menjauhi larangan. Hal-hal tersebut merupakan huquuqut tauhid wa mukammilatuhu (hak-hak tauhid dan penyempurna tauhid).
  4. Berita tentang kemuliaan orang yang bertauhid, tentang balasan kemuliaan di dunia dan balasan kemuliaan di akhirat. Ini termasuk jazaa’ut tauhid (balasan bagi ahli tauhid).
  5. Berita tentang orang-orang musyrik, tentang balasan berupa siksa di dunia dan balasan azab di akhirat. Ini termasuk balasan bagi yang menyelisihi hukum tauhid.

Dengan demikian, Al-Qur’an seluruhnya berisi tentang tauhid, hak-haknya dan balasannya. Selain itu juga berisi tentang kebalikan dari tauhid yaitu syirik, tentang orang-orang musyrik, dan balasan bagi mereka (Lihat  Fathul Majid 19).

Demikianlah sekelumit pembahasan tentang pembagian tauhid. Semoga Allah Ta’ala senantiasa meneguhkan kita di atas jalan tauhid untuk mempelajarinya, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.

Sumber: https://muslimah.or.id/7017-pembagian-tauhid-dalam-al-quran.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s