Ibadah


AYAT 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56)

Semua dimensi kehidupan manusia seharusnya adalah ibadah

Jika di dalam al-Quran dan hadits terdapat perintah terhadap sesuatu, maka sesuatu itu adalah ibadah. Jika Allah dan RasulNya melarang sesuatu, maka meninggalkan sesuatu itu adalah ibadah.

Perintah Allah itu adalah menjadi sebab manusia berbuat atau beramal, dalam berbuat atau beramal yang harus diperkuat adalah sebabnya.

Ada sekian hal yang Allah lepas pada manusia untuk menjadi perintah sebab, semakin kuat sebabnya semakin dekat rahmat Allah, itu sebabnya kenapa seberat apapun urusan Rasullah itu yang diperkuat pertama kali oleh Rasullah adalah sebabnya.

perintah Allah baik yang bersifat Rububiyyah (rezeki, kekuasaan) biasanya ayatnya diawali kata yaa ayuhannas, maupun yang bersifat uluhiyah (ibadah) biasanya ayatnya yaa ayuhaladzina amanu.

ketika di dunia Ibadah adalah penyempurna perintah NYA untuk mendapatkan rahmat NYA. Jika kita sudah mendapatkan rahmat Allah maka ibadah itu merupakan karunia yang diberikan ke umat muslim.

Ketika di syurga Ibadah adalah karunia yang diberikan kepada umat Muslim untuk mendapatkan rahmat NYA, karena non muslim pasti tidak di syurga.

Jadi jika kita sudah disurga maka kita akan sangat bersyukur karena kita sudah diberikan karunia ibadah tersebut.

Ibadah harus dengan ilmu

54 % Muslim selalu shalat dan tidak pernah meninggalkan shalat

23 % Pernah meninggalkan shalat kadang-kadang

9,6 % yang selalu mengaji

15 % sering mengaji

karena ilmu itu adalah pintu orang menjadi benar, maka setan lebih fokus ke orang yang mengaji.

orang yang tobatnya diujung seringkali mengabaikan perkara-perkara sederhana yang mendasari perkara pokok.

  1. belajar najis diabaikan karena fokus belajar shalat.
  2. belajar wudhu diabaikan, fokus ke khusyu shalat

 

Advertisements

Tauhid


A.Pengertian Rubûbiyyah Dan Ulûhiyyah Serta Ayat-ayat Yang Berkenaan Dengannya

Rubûbiyyah adalah bahasa Arab yang kata dasarnya terdiri atas huru-huruf “râ-bâ” yang mempunyai beberapa arti dasar sebagai berikut: “Ishlâhu al-Syay’i wa al-Qiyâmu ‘alayh” (memperbaiki sesuatu dan menjaganya). Di sini kata “al-Rabb” berarti al-Mâlik” (pemilik), “al-khâliq” (pencipta), dan “ash-Shâhib “(yang empunya).

Kata “al-Rabb” diartikan dengan memperbaiki sesuatu, seperti dalam kata: “rabba fulânun dhay’atah” (si Anu memperbaiki  pekarangannya). Kalimat ini diungkapkan apabila orang tersebut menjaga perbaikan pekarangannya.

Kata “al-Rabb” digunakan untuk Allah Swt., karena dia memperhatikan kebaikan hal ihwal makhluk-Nya. Sedangkan kata “ribbiy” berarti orang yang mengenal “al-Rabb”. Kata “al-rabỉb” berarti anak tiri laki-laki atau “al-rabỉbah” berarti anak tiri perempuan. Kata “al-rabb” berarti orang yang mengurusi anak tiri.

Selanjutnyan, “luzûm al-syay’i wa al-Iqamah ‘alayh” (melazimi sesuatu dan mengawasinya). Pengertian ini masih sesuai dengan arti dasar yang pertama, yaitu untuk menjaga kebaikan dan perbaikan sesuatu, harus diadakan pengawasan dan konsisten. Orang dapat mengatakan kalimat berikut: “Arabbat al-Sahâbah bi hadzih al-Baldah” (awan selalu melindungi negeri ini). Kalimat ini diungkapkan apabila awan itu selalu ada. Termasuk dalam arti yang kedua ini, ungkapan: “al-Syâh al-Rubbâ” (kambing yang dikurung di rumah untuk diambil air susunya, apabila kambing itu menetap di rumah). Frasa ini dapat pula berarti kambing yang baru melahirkan yang memelihara anaknya.

Continue reading

Hujan sebagai analogi rizki


Hujan

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir: 2).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi?” (QS. Fathir: 3)

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.” (QS. Saba’: 24)

Bahwa rezeki bisa dari langit dan dari bumi,

rezeki dari langit :

  • Hujan
  • Besi, emas, dan logam lainnya berdasarkan penelitian besi berasal dari luar angkasa, ketika meteor menabrak bumi jutaan tahun yang lalu
  • Frekuensi, pengunaan frekuensi saat ini juga merupakan rezeki
  • Atau mungkin masih banyak rezeki lain diatas sana, diplanet-planet diluar angkasa

rezeki dari bumi :

  • Tumbuhan
  • Minyak bumi
  • Hasil tambang
  • Atau mungkin masih banyak rezeki lain dibawah sana, karena masih banyak yang belum di eksplore dibawah bumi

Ibadah manusia sesungguhnya adalah untuk memancing rahmat Allah, Ibadah adalah penyempurna perintah Allah untuk mendapatkan rahmat, perintah Allah baik yang bersifat Rububiyyah (rezeki, kekuasaan) maupun yang bersifat uluhiyah (ibadah).

Continue reading