IKHTIAR DAN RIZKI


Ada 3 orang yang amat tekun beribadah di Masjid pada masa kekhalifahan Sayyidina Umar, Radhiyallahu tutur Dr. Jaribah ibn Ahmad Al Haritsi mengutip Ibn Katsir dalam Al Fiqhul Iqtishadi li Amiril Mukminin Umar ibn Al Khaththab.

Kepada orang pertama Khalifah bertanya, Apa yang kaulakukan di sini wahai hamba Allah? Orang itu menjawab, Beribadah, sebagaimana kaulihat wahai Amirul Mukminin. Lalu siapa yang menanggung nafkahmu dan keluargamu?

Janganlah engkau mengkhawatirkanku wahai Amirul Mukminin, ujarnya sambil tersenyum, Kami ada dalam jaminan Dzat Yang Maha Kaya lagi Maha Pemberi.

Maka Sayyidina Umar beralih pada orang kedua dan bertanya hal yang sama. Aku dan saudaraku berbagi tugas, ujar orang ini. Dia bekerja di pasar sementara aku memperbanyak ibadah dan mendoakannya. Kami berserikat dalam hasil perniagaannya. Sayyidina Umar tertawa dan bertitah, Demi Allah, saudaramu itu lebih ahli ibadah dengan apa yang dikerjakannya dibanding dirimu.

Kemudian beliau beralih pada orang ketiga. Seperti kaulihat hai Amirul Mukminin, katanya, Aku beribadah di sini. Dan ada saja hamba Allah yang berbaik hati mencukupi keperluanku. Orang ketiga ini ditendang oleh Sayyidina Umar keluar dari Masjid dan kepadanya diberikan tongkat beserta alat.

Demi Allah, bentak beliau, Berkeringat untuk bekerja dan merasakan lelahnya itu jauh lebih baik daripada engkau duduk di rumah Allah tapi hatimu berharap pada pemberian manusia. Rizqi itu jaminan Allah. Bekerja adalah ibadah kepada Allah dan kehormatan di mata manusia.

Kepada lelaki ketiga ini, ‘Umar juga memberikan modal untuk mengupayakan nafkah. Nasihat ‘Umar, “Bekerjalah dengan alat ini. Kerjamu sehari jauh lebih baik dari ibadahmu di masjid itu selama sebulan penuh.”

“Lelaki pertama benar tauhidnya. Dia bertawakkal kepada Allah Ta’ala. Laki-laki kedua memiliki alasan yang logis dan sebagai bentuk usaha yang dia lakukan. Sedangkan lelaki ketiga, ditendang karena bertawakkal kepada makhluk.”

Dalam salah satu haditsnya, Nabi juga pernah sampaikan nasihat, bahwa ada dosa-dosa yang hanya bisa terhapus dengan merasakan lelahnya bekerja dalam rangka mencari nafkah. Agar tidak meninggalkan generasi lemah yang meminta-minta kepada sesama, agar mandiri dalam beribadah kepada Allah Ta’ala

Maka Dr. Jaribah sampai menyimpulkan, Sayyidina Umar menghendaki semua muslimin aktif dan produktif meski tanpa bekerjapun mereka berkecukupan. Orang Quraisy yang tidak terjun berniaga dihardik keras. Modal tidak boleh berhenti. Lahan yang tidak ditanami 2 musim berturut bisa disita negara dan ditawarkan pada yang mampu menggarap. Bahkan harta-harta anak yatimpun dimudharabahkan agar tak terkurang oleh zakat dalam haulnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s