PENERAPAN GOOGLE FOR EDUCATION SEBAGAI PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS ICT


PENERAPAN GOOGLE FOR EDUCATION SEBAGAI PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS ICT

Firman Riyadi

Email : 

 

Abstrak : Pembelajaran disekolah menjadi sebuah beban baik bagi siswa maupun orang tua, Tuntutan untuk mendapat nilai yang baik membuat beban bukan hanya dari sisi siswa, orang tua dan guru tetapi juga dari sisi pemerintah. Ini terlihat dari pemberitaan di media massa dimana kepala daerah memberikan komentar terkait tingkat kelulusan Ujian Nasional. Tuntutan akan nilai yang baik seringkali menghilangkan sisi pendidikan karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, ikhlas, tolong menolong, dan bersyukur. Sistem pembelajaran yang satu arah dan hanya mengejar nilai pada akhirnya hanya akan membuat master of none yaitu siswa belajar banyak hal tetapi tidak memahami dan mendalami apa yang dipelajarinya. Belajar itu harusnya menyenangkan karena yang menyenangkan itu akan mudah diingat.E-learning sebagai metode pembelajaran yang memanfaatkan ICT (Information communication and Technology) membuat pembelajaran jadi lebih menyenangkan karena dapat diakses dimana saja, dapat di ulang, lebih interaktif dan lebih effesien. Teknologi yang dapat di implemetasikan di E-learning mulai dari teks, film, gambar bahkan animasi dengan tidak menghilangkan sisi pendidikan karakternya.

 

Keyword :Google for education. collaborative learning,ICT, Student center learning

Pendahuluan

Membuat pembelajaran yang menyenangkan sehingga peserta didik merasa nyaman dalam mempelajari sesuatu sehingga belajar tidak lagi menjadi beban sehingga siswa berani untuk terus ber eksplorasi dan bereksperimen terhadap pengetahuan yang dipelajarinya.

Seiring dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi informasi, penyebaran ilmu pengetahuan menjadi semakin cepat. Kegiatan transfer ilmu pengetahuan (knowledge transfer) mulai dirasa tidak cukup hanya dengan mengandalkan tatap muka antara tenaga pendidik dan peserta didik. Sistem pembelajaran dengan metode e-learning dirasa perlu diaplikasikan untuk melengkapi metode konvensional (tatap muka) untuk menumbuhkan motivasi belajar peserta didik.

Metode e-learning (Online course content) memberikan kemudahan dan kelancaran proses belajar-mengajar baik bagi tenaga pendidik maupun peserta didik. Dengan metode e-learning, tenaga pendidik dapat meningkatkan intensitas komunikasi interaktif dengan peserta didik di luar jam belajar resmi. Metode e-learning memberikan keleluasaan pada tenaga pendidik untuk memberikan akses kepada peserta didik untuk mendapatkan referensi ilmiah terkait dengan mata pelajaran tersebut yang mungkin tidak didapat selama jam belajar maupun praktikum. Referensi-referensi tersebut dapat berupa tulisan ilmiah, artikel populer atau jurnal-jurnal elektronik. Hal ini akan sangat berguna bagi peserta didik, karena selain dapat memperkuat pemahaman peserta didik untuk tiap pokok bahasan pelajaran, referensi dari artikel-artikel internasional akan sangat membantu memperluas wawasan peserta didik sekaligus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris peserta didik. Sehingga diharapkan di masa depan, para peserta didik akan memiliki daya saing yang tinggi, mendalam dalam pengetahuan yang dipelajari dan tentunya memiliki prestasi atau nilai yang baik.

 

Metode Penelitian

 

Lokasi dan waktu penelitian

Pengembangan metode pembelajaran online berbasis e-learning ini ditujukan untuk para Sivitas dilingkungan Al Azhar Syifa Budi Jakarta. Pengembangan sistem ini dilakukan dilingkungan Al Azhar Syifa Budi Jakarta.

 

1.1 Analisis Sistem

Tahap analisis sistem adalah tahap penguraian dari suatu sistem yang utuh ke dalam bagian-bagian komponennya dengan maksud untuk mengidentifikasikan dan mengevaluasi permasalahan-permasalahan, kesempatan-kesempatan, hambatan-hambatan yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat dibuat rancangan sistem yang baru yang sesuai dengan kebutuhan.

 

Penggunaan teknologi internet memberikan konsep baru untuk saling bekerjasama menggabungkan berbagai human resource, infrastuktur, capital  sehingga memungkinkan untuk menciptakan budaya unlimited possibility. Penggabungan berbagai disiplin ilmu memberikan kemungkinan untuk membuat berbagai penemuan-penemuan baru. Teknologi yang tepat akan meningkatkan value dari suatu produk, produk yang baik akan meningkatkan loyalitas konsumen,  konsumer yang loyal akan menjadi salah satu media advertising yang efektif dengan menceritakan benefit dari produk tersebut.

E-learning membuka akses untuk berkolaborasi, E-learning membuka akses untuk berkomunikasi, E-learning juga membuka akses untuk belajar secara menyenangkan, jika aksesnya telah terbuka maka itu akan menjadi kesempatan.kesempatan untuk menjadi greatest problem solving. Kesempatan untuk menemukan penemuan-penemuan baru, kesempatan untuk bisa saling belajar, kesempatan untuk membuat hidup menjadi lebih baik, kesempatan untuk saling mengisi ,kesempatan untuk lebih beriman.

 

E-learning juga memungkinkan untuk belajar dengan model pembelajaran kolaborasi tidak terbatas hanya sebagai student center learning atau teacher center learning. Model pembelajaran kolaborasi memungkinkan para ahli atau master untuk ikut serta memberikan opini atau pendapatnya terkait dengan suatu masalah tertentu sehingga diharapkan peserta didikpun memiliki kemampuan problem solving setara para ahli atau master.

Dalam penerapan pembelajaran kolaborasi, terdapat pergeseran peran si belajar (MacGregor, 2005):

  1. Dari pendengar, pengamat dan pencatat menjadi pemecah masalah yang aktif, pemberi masukan dan suka diskusi.
  2. Dari persiapan kelas dengan harapan yang rendah atau sedang menjadi ke persiapan kelas dengan harapan yang tinggi.
  3. Dari kehadiran pribadi atau individual dengan sedikit resiko atau permasalahan menjadi kehadiran publik dengan banyak resiko dan permasalahan.
  4. Dari pilihan pribadi menjadi pilihan yang sesuai dengan harapan komunitasnya.
  5. Dari kompetisi antar teman sejawat menjadi kolaborasi antar teman sejawat.
  6. Dari tanggung jawab dan belajar mandiri, menjadi tanggung jawab kelompok dan belajar saling ketergantungan.
  7. Dahulu melihat guru dan teks sebagai sumber utama yang memiliki otoritas dan sumber pengetahuan sekarang guru dan teks bukanlah satu-satunya sumber belajar. Banyak sumber belajar lainnya yang dapat digali dari komunitas kelompoknya.

Dari uraian diatas, kita bisa mengetahui hal yang ditekankan dalam belajar kolaboratif yaitu bagaimana cara agar siswa dalam aktivitas belajar kelompok terjadi adanya kerjasama, interaksi, dan pertukaran informasi.

 

1.2 Analisis Kebutuhan

      Desain sistem yang akan dibuat memerlukan beberapa kebutuhan data masukan, kebutuhan data keluaran, kebutuhan antar muka dan infrastruktur. Tujuan analisis kebutuhan adalah untuk menentukan spesifikasi fungsi, kemampuan serta fasilitas dari program. Analisis kebutuhan juga bermanfaat sebagai dasar evaluasi setelah program selesai disusun.

 

  • Kebutuhan Data Masukan

 

Pembuatan Media E-Learning ini membutuhkan beberapa masukan data diantaranya adalah data Tutorial yang berkaitan dengan penggunaan E-learning, data Pengguna (anggota dan administrator), data kritik dan saran atau komentar dari anggota.

 

  • Kebutuhan Data Keluaran

 

Data keluaran adalah data yang dihasilkan dari data masukan yang telah diolah. Adapun output yang dihasilkan seperti : soal ujian, nilai ujian, review test.

 

  • Kebutuhan Antarmuka

 

Berdasarkan hasil pengamatan, antar muka yang diinginkan harus dengan tampilan sebaik mungkin, sehingga ramah bagi pengguna artinya pengguna dapat menggunakan perangkat lunak yang dibuat dengan senyaman mungkin dan mengurangi kesalahan dalam memasukkan data, proses maupun keluarannya.

 

  • Infrastruktur

 

Infrastruktur dalam pembuatan media E-learning meliputi software E-learning, Server Hosting, Domain dan perangkat jaringan komputer.

1.3 Analisis Permasalahan

Suatu permasalahan tidak akan terjadi dengan sendirinya, tetapi pasti ada penyebabnya, Sistem E-Learning dibuat berdasarkan adanya permasalahan-permasalahan yang timbul diantaranya :

  1. Adanya kesulitan peserta didik dalam mempelajari materi pembelajaran dari media buku ataupun media lainnya.
  2. Adanya kesulitan peserta didik untuk mengulang materi pelajaran secara menyenangkan.
  3. Update data soal atau materi yang tidak berlangsung dengan cepat
  4. Kesulitan untuk menggunakan berbagai alternatif model pembelajaran

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Google Apps for Education adalah salah satu layanan google untuk bidang pendidikan, google memiliki filosofis yang cukup baik yang dapat diambil semangatnya bagi kita semua, filosofis google tersebut adalah :

  1. Google selalu melakukan inovasi dan memperbaiki diri agar produknya menjadi nomor 1,seperti cerita hand of midas dalam mitologi yunani apapun yang disentuh akan berubah menjadi emas.
  2. Google memberikan hasil terbaiknya secara gratis, seperti konsep sedekah dimana tidak akan ada yang akan bangkrut ketika rajin bersedekah, dan ini dibuktikan google ketika krisis ekonomi hampir semua saham perusahaan IT turun tetapi itu tidak terjadi pada google
  3. Google tidak rasis, semua agama,golongan,gender, suku dan ras dapat menggunakan produk google
  4. Google jujur, tidak ada yang ditutupi atau dibedakan ketika melakukan pencarian
  5. Google berusaha untuk menjadi nomor satu dan menjadi pemersatu,itu terjadi dengan masuknya kata baru googling hampir dibanyak negara didunia.
  6. Google berusaha untuk membuat nyaman user dan karyawannya dengan tidak memberikan iklan dihalaman google,google memanjakan karyawannya dengan berbagai fasilitas, ketika user dan karyawannya sudah nyaman dan bersyukur maka google akan terus dilimpahkan berbagai nikmat.

Dengan menggunakan google apps, infrastruktur secara software dan hardware sudah sebagian besar diambil alih oleh google, google memiliki software yang cukup menunjang untuk melakukan pembelajaran dengan menggunakan ICT software yang disediakan meliputi google classroom, google docs, google slides, google sheets, email, calendar,youtube channel, google drive dan banyak lagi aplikasi lainnya. Semua software ini digunakan secara online dan selalu terupdate. Secara hardware tidak lagi harus memikirkan server, traffic jaringan diserver, kapasitas penyimpanan diserver, setting pada server semuanya menggunakan perangkat yang dimiliki google.

User lebih fokus kearah konten pembelajaran, semua perangkat software dan hardware sebagian besar memakai fasilitas google, metode pembelajaran bukan hanya berbasis pada student center learning atau teacher center learning tapi dapat juga mengarah ke collaborate learning.

Google Apps juga didukung oleh berbagai software dari pihak ketiga dari yang bersifat free sampai yang berbayar, Google Apps juga sudah dapat diaplikasikan keberbagai perangkat yang berbasis android sehingga dapat di install di smartphone dan tablet, bahkan juga di gadget yang berbasis ios milik apple.

Google For Education memberikan berbagai kemudahan dalam pembelajaran dan semuanya bisa dilakukan se “natural” mungkin sama seperti pembelajaran secara konvensional hanya lebih dimudahkan dalam melakukan share file atau dokumen, tidak perlu fotokopi materi, materi akan selalu terupdate karena ketika guru melakukan update maka siswapun akan menerima materi yang terupdate sehingga miss comunication antara siswa dan guru menjadi minimalis.

Cyberschool_10

Gambar : Alur pembelajaran menggunakan google for education

Dalam Google For Education, guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar, banyak media dan teknik yang dapat juga dijadikan sebagai sumber belajar bahkan teman sejawat (bisa siswa atau guru) dapat memberikan komentar terhadap tugas atau materi yang diberikan (tergantung setting class room nya) sehingga diharapkan problem solving yang diberikan terhadap suatu masalah adalah problem solving yang baik atau tingkat tinggi, hal inilah yang disebut sebagai collaborative learning yang sangat memungkinkan dilakukan didalam Google For Education .

 


Cyberschool_17

Gambar : berbagai media dan teknik yang bisa dijadikan sumber belajar

Lebih jauh terdapat asumsi bahwa pengetahuan akan lebih eksis jika dibangun oleh orang-orang dimasyarakat berdasar kesepakatan bersama melalui sambung rasa pengetahuan. Seorang pakar collaborative learning menyatakan: “Knowledge is something people cooperative learning conshuct by talking togethel and reaching agreement (bruffee, 1993. PPP dalam buku barAley-6), artinya pengetahuan dibangun sebagai hasil pembicaraan bersama dan mencapai kesepakatan. Bruffee lebih jauh mengatakan bahwa collaborative learning bermaksud melindungi para siswa terhadap ketergantungan pengajar yang memegang otoritas bahan pelajaran. Collaborative learning didefinisikan sebagai kegiatan belajar dalam kelompok yang tidak selalu dimonitoring oleh pengajar, tetapi pengajar lebih berperan dan bertanggung jawab sebagai anggota selama proses rnencari pengetahuan oleh siswa sedang berlangsung.

Esensi dari Collaborative learning bekerja sama secara harmonis mencari solusi terhadap materi pembelajaran. Tujuan Collaborative learning adalah mengembangkan kemampuan berfikir sendiri dan juga untuk mengurangi watak yang teridealisme, bukankah perintah dalam agama adalah bacalah dan bukan bergurulah.

Dengan Google for education siswapun dengan mudah melakukan review materi yang pernah diberikan berikut dengan berbagai komentar tentang materi tersebut.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Dari hasil pengembangan penerapan Google For Education dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Diharapkan terdapat peningkatan kualitas pembelajaran pada mata pelajaran dengan menggunakan Google For Education.
  2. Terdapat peningkatan kebermaknaan pemahaman pada materi di berbagai mata pelajaran dengan menggunakan model Collaborative Learning.
  3. Pembelajaran dengan model Collaborative Learning, merupakan model pembelajaran yang inovatif.

SARAN

Saran lebih ditujukan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pembelajaran di Sekolah sebagai berikut:

  1. pendidik perlu memperhatikan suasana pembelajaran yang kurang kondusif dan tidak menarik minat Peserta didik.
  2. Infrastuktur untuk pengunaan ICT dalam pembelajaran perlu diperhatikan dari mulai jaringan internet, proyektor, dan sarana komputernya.
  3. Untuk menumbuhkan minat dan motivasi peserta didik sangat diperlukan kolaborasi dengan berbagai pihak terkait.
  4. Para pengampu mata pelajaran disarankan selalu berupaya meningkatkan kerjasama dan kolaborasi dengan para guru bidang studi lainnya di sekolah.

 

DAFTAR PUSTAKA https://kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/05/27/collaborative-learning/

https://www.scribd.com/doc/139926826/3-Contoh-Jurnal-Ilmiah-pdf

http://fapet.unsoed.ac.id/sites/default/files/Petunjuk%20Penulisan%20Artikel%20Ilmiah%20JIP%20-%20rev2.pdf

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s